Baca Novel : Bisikan Iblis (Nyawa yang Tergadaikan) - SimpleMan

Malam ini, gw mau cerita sebuah cerita nyata yang pernah di ceritakan oleh salah satu teman gw waktu SMP.

Sebuah cerita yang membuat bulukuduk gw selalu merinding tiap mendengar detail dari sebuah peristiwa yang lebih dari sebuah terror!!

Sebuah cerita yang akan membuat gw berpikir ulang dari apa arti sebuah kematian yang sebenarnya. Sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang terikat dengan sebuah takdir yang akan membawa mereka dalam satu bencana yang di sebut “SIREP DUNYOTO” (Hidup namun Mati)

Disini gw akan menceritakan semuanya dari sudut pandang Andi, teman SMP gw yang pernah menjadi saksi peristiwa ini. Berlatarkan tahun awal 2000’an cerita ini terjadi di sebuah kabupaten di jawa timur, yang gak bisa gw katakan dimana tempatnya berada.

Dan disinilah semuanya kita mulai.

Baca Novel : Bisikan Iblis (Nyawa yang Tergadaikan) - SimpleMan

“Ndi, ki omahe sopo to? Gede bener” (Ndi, ini rumahnya siapa? Kok besar sekali) Tanya teman gw, Randu.

Seperti biasa, setiap minggu pagi adalah waktu yang tepat bagi gw untuk bersepeda keliling kampung, dan pagi ini menjadi lebih special ketika teman baik gw di SMP, Randu dan Riven, datang jauh dari kota untuk bisa berlibur dan menginap di kampung gw.

sebenarnya, alasan teman gw menginap bukan untuk sekedar menginap dan mengenal rumah dan kampung gw, namun untuk melihat saksi bisu dari peristiwa yang tempo hari gw ceritain ke mereka, sebuah cerita yang akan berhubungan dengan rumah besar di depan gw ini.

“iki omahe sing tak ceritak’ne wingi” (ini rumah yang aku ceritakan kemarin) kata gw, sembari menatap jauh jendela-jendela serta pintu yang sudah rusak tergerus jaman.

Peristiwa ini sendiri sudah terjadi sekitar 4 tahun yang lalu dan sampai saat ini, rumah ini tak terurus, seolah menyimpan semua kengerian itu sendiri, di atas tanah ini.

Gw sendiri selalu merinding tiap melewati jalanan ini, terlebih bila melihat rumah besar ini, dengan pagar berkaratnya, rumput liar di halamanya, dan terlebih setiap melihat ke jendela-jendela yang kacanya sudah pecah disana-sini, gw merasa, di dalamnya, seperti ada yang sedang mengamati gw darisana. Apapun itu, gw merinding.

“oh iki ta. Oleh melbu ora iki?” (oh ini ta. Boleh masuk gak nih?)
“Haa” gw menatap Randu yang baru aja turun dari sepedanya, sementara Riven masih menimbang apakah dia mau senekat itu, apalagi bila tau sejarah rumah ini.

Suara berderit dari pagar besi yang berkarat terbuka, ketika Randu sudah masuk dan memasuki halaman rumah yang di penuhi rumput liar dengan tumbuhan putri malu disana-sini dimana durinya harus di hindari.

Seolah gw tau kelakuan teman gw Randu yang memang sudah penasaran sejak awal gw ceritain cerita ini maka gw pun terpaksa mengikuti, Riven pun mau tak mau juga harus ikut.

Setelah susah payah, melewati semak belukar dan rerumputan yang tingginya hampir sedengkul akhirnya kami sampai di teras rumahnya, keramiknya masih tampak bagus meski di penuhi debu dan dedaunan yang entah tertiup angin dari pohon yang mana di sekitar sini.

“isok di buka gak iki” (bisa di buka gak ini?) kata Randu
“ojok” (jangan) kata gw khawatir, gw udah buat perjanjian sebelumnya bahwa kami seharusnya hanya melihat dari pagar luar rumah, namun realitanya malah kita masuk sampai di teras

Dasar Randu kebangetan, dia malah memutari rumah dan bergerak pergi ke pintu belakang. Mau tak mau gw dan Riven mengikuti.

Di samping Rumah ada tanah lapang yang juga di penuhi rerumputan liar, banyak pohon disana, mulai dari mangga hingga rambutan, di balik langkah kaki kami, gw terpaku menatap jendela-jendela yang berjejer di sisi rumah, berharap gak mendapatkan pemandangan yang tidak di inginkan.

Syukurlah, kami sampai di pintu belakang, dengan pemandangan yang gak kalah tak karuan seperti teras depan, bau amis dan pesing tercium disana-sini, beberapa kali gw menahan penciuman hidung gw,

di lain hal, Riven hanya diam memandang kesana-kemari, nyalinya menciut manakala dia melihat kearah ayunan besi yang gak kalah berkarat di bandingkan pagar rumah depan.
“Iku ta ayunan sing mok ceritak’ke” (itu kah ayunan yang kamu ceritakan itu)

Randu pun menatap ayunan itu, kami bertiga tampak tegang, karena gw pernah mendengar bahwa setiap malam hari, ayunan itu selalu berayun sendiri, meninggalkan suara berdencit dari besi yang sudah lama
tidak di lumasi, namun hari ini, tampaknya semua baik-baik saja. Toh, itu hanya cerita dari warga kampung.

Randu yang pertama mencoba membuka pintu, sesaat, gw di buat mengangah, karena pintu belakang tampak terbuka lebar di depan kami.

Posting Komentar

0 Komentar