DILAN
Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Seri Kedua

Waktu itu, jalan Buah Batu rasanya bukan lagi milik Pemkot, melainkan milik aku dan Dilan, yang sedang berdua di atas motor.
Sebagai keindahan yang nyata bahwa Dinas Bina Marga Bandung telah sengaja membuat jalan itu, khusus untuk kami merayakan hari resmi mulai berpacaran.

Entah bagaimana dengan Dilan, tapi perasaanku saat itu, terasa lebih deras dari hujan dan seperti melambung lebih ringan dari udara.

Entah bagaimana dengan Dilan, tapi di hatiku adalah dia, dengan perasaan hangat yang kupunya. Di kepalaku adalah dia, dengan semua sensasiku dan alam imajinasiku yang melayang.

Dia adalah Dilanku tahun 1991

Tujuan pacaran adalah untuk putus, bisa karena menikah, bisa karena berpisah - Pidi Baiq

Kupeluk Dilan sambil mengenang saat pertama kali aku mulai mengenalnya. Teringat kembali tentang semua hal yang sudah dia lakukan selama ini kepadaku. Di antaranya, ada juga yang menjengkelkan, tetapi tetap bisa membuat aku tersenyum.

Sikapnya kepadaku selama ini, agak susah kujelaskan. Dan, selalu sulit bagiku untuk tidak menyukai apa yang sudah ia lakukan. Secara khusus akan bisa membuat aku tertawa, atau minimal membuat aku tersenyum, sisanya membuat aku terjebak pada suatu keadaan yang lebih dari cuma rasa senang.

Ini skenario yang paling menakjubkan dalam hidupku. Bagaimana kemudian dia bisa mengubah pikiranku. Bagaimana kemudian dia bisa mendekor ulang, dan mengubah warna hidupku. Aku tidak mau lagi berpikir mengapa kemudian aku memiliki rasa suka kepadanya. Hidup, memang, tak terduga. Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.

***

Please wait...loading... Tinggal Kamu Scrool ke atas, Jika uang sudah cukup, usahakan beli Novel aslinya :D



Gimana kesannya setelah baca? yuk berkomentar. Mau lanjut ke Bagian Tiga? Cari di halaman ini judulnya Milea : Suara dari Dilan.