Baca Novel : Ancika, Dia yang Bersamaku Tahun 1995 - Pidi Baiq



BAB I - Aku

1

Saya bertemu dengan Dilan secara tidak sengaja di pertengahan tahun 1995, di mana pada awalnya saya berpikir dia sedikit mabuk karena berbicara sangat konyol. Dia juga aneh, kata-katanya mengagetkan, perilakunya cenderung menjengkelkan, bahkan seperti orang yang mengerikan ketika itu terjadi.

Tentu saja, saya tidak langsung menyukainya, tapi kemudian, secara bertahap, tumbuh menjadi teman baik saya, dan berkembang ke arah konflik antara perasaan romantis dan perasaan persahabatan. Hanya butuh waktu untuk menjawabnya, kemudian semuanya terasa sempurna.

Begitulah cara saya bertemu dengan Dilan.

Dilan yang saya maksud adalah orang yang sama yang pernah diceritakan oleh Milea Adnan Hussain di dalam buku “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990” dan “Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991”.

Tapi, sebelum saya menceritakannya lebih jauh, saya merasa perlu menyampaikan beberapa rangkaian peristiwa yang mengiringinya, sekaligus untuk sedikit bisa menjelaskan siapa saya dan bagaimana kepribadian saya berinteraksi dengan kepribadian orang lain.

Katanya, informasi latar belakang, yang berhubungan langsung dengan cerita, itu cukup penting, meskipun sebetulnya saya lebih suka tanpa informasi latar belakang, tetapi saya dapat memahami bahwa ada orang lain yang mungkin menginginkannya.

2

Baiklah, kalau begitu.

Perkenalkan, nama saya Ancika Mehrunisa Rabu, lahir dan tumbuh di kota Bandung. Seratus persen saya seorang perempuan. Oh. Ibu saya lebih suka melihat saya berambut panjang terurai, tapi, di SMP, saya memotong rambut saya sangat pendek, hanya karena ingin praktis, sehingga kalau ada badai besar apa pun, saya tidak perlu khawatir rambut saya akan menjadi berantakan.

Saya suka membaca. Buku komik, novel, majalah, atau apa saja. Saya juga suka bermain-main dan memanjat pohon di masa kanak-kanak. Saya menikmati hiking, atau berkemah. Mengendarai sepeda BMX milik adik saya, keliling kompleks perumahan. Itu menyenangkan. Atau melukis wajah adik saya menggunakan lipstik sehingga menjadi lucu seperti badut.

Di masa kecil, saya mengalami fase ikut kegiatan tae kwondo dan bermain sepak bola bersama anak laki- laki di halaman kosong seberang rumah. Ide saya untuk berdandan adalah mengenakan kaos, celana jins, jaket atau kemeja.

Kalau saya harus jujur, meskipun seolah-olah semua perilaku saya sesuai dengan peran gender yang dikaitkan dengan laki-laki. Namun saya juga melakukan banyak hal yang sifatnya feminim. Saya memasak, dan saya bersih-bersih. Membuat kue dan sedikit memakai make up, tetapi hal-hal itu biasanya saya lakukan ala kadarnya atau seperti hanya mencoba menyesuaikan diri. Kadang-kadang saya juga bisa menjadi begitu pendiam.

Saya tidak tahu. Saya memiliki beberapa sifat, minat, dan keterampilan yang cukup maskulin, Bahkan sejak usia muda, entah mengapa, saya seperti ingin menjadi tangguh. Ini sedikit sulit dijelaskan. Maksud saya, rasanya seperti tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat membuat saya menangis.

Saya juga tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang mengganggu atau mengintimidasi saya. Waktu saya masih SD, saya pernah menampar Si Dicky Ugon, teman sekelas. Sebetulnya secara pribadi saya tidak suka konsep menyakiti orang lain, tapi si Ugon itu brengsek. Dia sudah berani menarik rambut saya dari belakang. Dia menangis dan mengancam akan lapor ke kakaknya.

Saya menjawab, "Bawa semua keluargamu ke sini!"

Kemudian dia mengkerut seperti berandal kecil yang menyedihkan. Sejak itu dia tidak pernah mengganggu saya lagi.

Selain si Dicky, ada si Rudi Acul. Dia teman saya satu kelas di SMP. Saya tonjok matanya karena berani mengangkat rok saya dari belakang pada jam istirahat. Maksud saya dia benar-benar kurang ajar. Kami berkelahi di dekat pintu kelas sampai akhirnya guru datang, menghentikan perkelahian. Saya mohon maaf jika terdengar bodoh, tetapi saya benar-benar ingin memberinya pelajaran. Akhirnya kami berdua diskors selama dua hari, meskipun sebetulnya saya tidak pernah mencari pertengkaran.

3

Tahun 1994, saya mulai bersekolah di salah satu SMA yang ada di daerah Kiaracondong, berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari rumah. Lokasinya kira-kira seratus meter dari jalan raya utama, sehingga setelah saya turun dari angkot, saya masih harus berjalan kaki menuju gedung sekolah.

Saya tahu, sungguh keterlaluan bagi seorang anak harus bersekolah selama delapan jam. Tapi saya harus fokus belajar sebagai bagian dari rencana saya ingin meraih rangking pertama di kelas -seperti yang selama ini saya peroleh, dan juga untuk meraih cita-cita saya yang ingin melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, sama seperti siapa pun yang mencoba ingin mencapai tujuan di dalam hidupnya.

Lagipula, sekolah itu menyenangkan, saya mengenal banyak orang, dan mereka juga sepertinya mengenal saya. Saya bisa bergaul dengan seluruh kelas dan menjadi sangat terikat dengan mereka melalui hal-hal yang kami lakukan bersama.

Saya sering ngobrol dengan mereka, baik saat makan di kantin atau saat sedang berkumpul di tempat lain, bahkan saya bisa dikatakan seperti orang yang selalu membuat komentar jenaka saat berkumpul dengan mereka. Meskipun saya tidak pernah menjadi yang paling vokal atau berisik, terkadang mereka mendengar kata-kata saya. Ya, saya menerima mereka sebagai mereka dan mereka menerima saya sebagai saya, walau sebenarnya saya tidak peduli jika seseorang tidak menyukai saya.

Itu adalah sosialisasi yang bagus dan sudah cukup bagi saya. Saya tidak pernah repot-repot ingin memiliki banyak kontak di luar sekolah. Entah bagaimana, saya selalu merasa sangat sulit untuk membuat kontak baru dengan seseorang di luar sekolah, apalagi kalau harus menjalin pertemanan, rasanya seperti tidak punya alasan untuk melakukannya. Apalagi saya adalah tipe orang yang langsung menutup diri jika bertemu orang baru. Saya hanya akan terbiasa dengan seseorang jika sudah bertemu beberapa kali dengannya.

Di sekolah, saya punya teman dekat yang saya miliki sejak SMP. Dia adalah Indri Artatih, saat itu rumahnya di daerah Sekelimus. Saya menganggap dia lebih sebagai teman sebangku daripada sebagai saingan di dalam meraih ranking pertama di kelas.

Indri selalu menjadi bagian dari pergi menghabiskan hari berkeliaran ke tempat-tempat nongkrong bersama saya dan ngobrol di sana sampai kehabisan makanan dan air minum. Ya, saya suka menghabiskan waktu dengan teman-teman dan bersenang-senang pergi keluar, anggaplah sebagai refreshing, setelah lelah menghabiskan waktu belajar selama seminggu.

4

Di masa itu juga, saya mengenal Bono. Dia bukan benar-benar teman saya. Dia hanya satu sekolah dengan saya, tapi beda jurusan. Orang-orang mengenalnya sebagai anak nakal. Saya kira, maksud saya, dia bukan tipe anak baik-baik. Suka bolos, suka berantem dan pernah ditangkap polisi gara-gara menyerang SMA lain. Pihak sekolah sempat memberi sanksi atas semua perilaku buruknya itu tapi dia tidak pernah berubah. Bono malah berhasil mempertahankan pengikutnya yang banyak dan vokal. Mereka biasanya nongkrong di warung Mang Uja, yaitu sebuah warung makan yang lokasinya berada di antara jalan menuju ke sekolah dan jalan Kiaracondong.

Kata Indri - entah info dari mana, Bono suka mabuk-mabukan dan terlibat di dalam obat-obatan, ugal-ugalan mengendarai sepeda motor, gonta-ganti pacar, dan banyak hal lain mengerikan yang telah dia lakukan. Ketika Indri mengatakannya, saya tidak pernah memikirkannya dengan serius. Saya tidak tertarik dengan urusan pribadinya, tapi menurut saya, cukup bodoh untuk remaja masuk ke dalam situasi seperti itu karena akan membuat hidup mereka berantakan.

Herannya, meskipun begitu, Bono sering kali menjadi pilihan romantis yang disukai oleh beberapa gadis di sekolah, entah karena apa? Salah satunya mungkin karena Bono menarik secara fisik, tetapi saya benar-benar tidak melihat daya tarik yang sama seperti yang dilakukan oleh mereka yang suka kepadanya.

Itulah Bono. Sebetulnya pada saat awal-awal saya mengenalnya, saya masih mau bercakap-cakap dengan dia, tetapi kemudian dia mulai sering menggoda saya, atau sesuatu seperti itu dan melakukan gerakan-gerakan nyata yang menunjukan dia tertarik ke saya dengan cara berlebihan yang membuat saya merasa terganggu dan tidak nyaman.

Pernah di suatu hari, sekitar jam 12 siang, pada saat saya mau keluar dari gerbang sekolah bersama Indri, saya melihat ada Bono, mengenakan jaket jeans dan hanya tampak seperti pengganggu. Dia duduk di atas motornya dengan mesin yang masih hidup. Tidak tahu mau apa, posisi motornya melintang seperti sengaja memblokir jalan saya.

Saya langsung bisa mengatasinya dengan cepat, "Minggir,' kata saya, datar, tanpa memandang si Bono. Ini mungkin masalah kecil bagi beberapa orang, tetapi saya merasa itu sangat menjengkelkan. Bono tetap diam, mengabaikan perintah saya dan berusaha sekuat tenaga untuk mengubah wajahnya menjadi senyuman.

Saya tidak suka dibuat merasa bodoh, kemudian memandangnya, "Kalau enggak minggir, aku tendang!"

Saya serius, dan benar-benar akan melakukannya. Bono tersenyum, memundurkan motornya, sambil ngomong, "Mau dianter pulang, gak?"

"Nanti aja, " jawab saya sambil terus jalan bareng Indri, meskipun sebetulnya saya tidak ingin menanggapinya sama sekali.

"Kapan?" Tanya Bono, di mana saat itu sepeda motornya sudah mulai jalan melambat di samping saya.

"Tahun dua ribu sembilan lima!" jawab saya dengan nada serius tanpa memandangnya.

Itu membuatnya tertawa, dengan tawa kaget, tapi saya yakin dia kesal.

"Ah, tahun segitu mah, kamunya udah nenek-nenek!" kata dia.

Dia mengatakannya dengan penekanan yang sangat aneh sehingga membuat saya sedikit tertawa.

"Kamunya juga udah kakek-kakek!" Jawab saya.

Bono ketawa lagi, lalu bilang, dengan nada mendesak, "Hayu, mau gak?"

"Saya bilang, nanti, " jawab saya, tanpa memandangnya.

"Jangan nolak rizki!"

"Saya bukan nolak rizki, saya nolak Bono!"

Bono ketawa.

"Ya udah!" Kata Bono, lalu pergi. Kayaknya dia kecewa. Ya, syukurlah.

Beberapa saat setelah Bono berlalu, Indri ketawa ngakak dan saya ikut tertawa.

"Kamu berani, ih!" kata Indri.

"Kenapa emang?"

"Dia, kan, geng motor!"

"Gak takut!"

Saya benar-benar tidak takut si Bono, meskipun dia anak geng motor.

Di mata saya, anak geng motor itu, cuma anak-anak berandalan yang menyedihkan dan bodoh. Pengganggu, yang tidak punya pikiran, sekaligus juga manusia yang malang.

Saya tentu bersalah menghakimi orang, maksud saya mungkin tidak semua anak geng motor seperti Bono. Tapi saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan untuk melawannya selama saya benar.

Setelah saya dan Indri sampai di tepi jalan Kiaracondong, untuk menunggu angkot di depan warung rokok, dekat karung goni besar yang ditumpuk di pinggir jalan, saya mendengar ada orang memanggil nama saya dari warung Mang Uja:

"Cika!"

Saya menoleh ke arah suara itu dan melihat ada banyak anak berseragam SMA sedang berkumpul.

“Setuju! Tahun dua ribu sembilan lima hahaha!” kata orang itu, melanjutkan.

Saya hanya tersenyum, tanpa menoleh.

Malamnya Bono menelepon saya dan benar-benar menyeramkan pada saat itu terjadi. Bono bilang ingin mengajari saya mengendarai sepeda motor, lalu mulai menggoda saya tentang banyak hal. Saat itu saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa gilanya apa yang dia katakan, mungkin karena pengaruh alcohol atau obat-obatan.

Setelah itu, segalanya berkembang dengan cepat. Bono menjadi sering mendatangi saya, seolah-olah saya adalah teman lamanya yang hilang. Tentu saja sangat mengganggu terutama kalau sudah bergabung dengan saya yang saat itu sedang duduk bersama kawan-kawan di kantin. Kemudian dia mengoceh panjang lebar, mengulang-ulang bahasan tentang rencananya yang ingin memburu harta pejabat korup yang disimpan di Bank Swiss. Buat saya, terserah dia mau ngomong apa, itu urusannya, asal kalau sedang dekat saya, jangan suka menyentuh rambut atau tangan saya. Itu sudah melewati batas yang membuat saya merasa tidak nyaman.

"Jangan pegang-pegang," kata saya, tegas, sambil menyentakkan tangan saya ke belakang.

"Jangan marah dong."

"Nyentuh lagi, aku hajar!"

Mungkin ada orang yang baik-baik saja diperlakukan seperti itu, tapi kayaknya kebanyakan gadis pasti akan memberi perlawanan dan saya baru saja melakukannya.

Selain itu, Bono juga tidak sopan. Dia pernah menutup mata saya dengan kedua tangannya dari arah belakang, terus minta ditebak siapa dia. Saat itu dia mungkin berpikir dia adalah manusia paling romantis yang masih hidup, tapi menurut saya kurang ajar, jadi, saya marah dan Bono pergi setelah saya usir - tanpa bersikap kejam. Wajahnya cemberut, seolah-olah sayalah yang salah.

"Amer dilawan?" Kata Indri setelah Bono pergi.

Amer yang dimaksud Indri adalah saya. Beberapa orang di sekolah, memang ada yang memanggil saya Amer - singkatan dari nama: Ancika Mehrunisa Rabu. Mereka mengatakannya sebagai lelucon, untuk mengacu pada Amer yang dikenal oleh umum sebagai singkatan Anggur Merah. Itu semacam minuman bermanfaat untuk kesehatan, yang sering disalahgunakan untuk mabuk-mabukan.

"Saya memang haram!" Kata saya ke Indri.

"Ha ha ha"

"Kecuali kalau udah dinikah …" Kata saya lagi sambil mengangkat kedua alis.

5

Momen puncaknya, terjadi pada tanggal 14 Februari 1995, di mana saat itu saya sedang belajar di kelas. Tiba-tiba muncul Bono dari balik pintu kelas yang dia buka. Awalnya dia terlihat ragu, tapi kemudian masuk ke kelas dengan kantong kresek di tangannya untuk alasan yang sama sekali belum diketahui.

"Permisi, Pak, ” kata Bono membungkuk sopan ke Pak Yusuf yang sedang duduk di kursinya.

Pak Yusuf, mengerutkan dahinya. "Ya?" Tanya Pak Yusuf.

"Ada titipan dari ketua OSIS, buat Cika, " jawab Bono.

Dan saya harus mengatakan saya terkejut.

"Rek naon si eta?" Tanya Indri ke saya, berbisik.

"Gak tau, " jawab saya, pelan.

Setelah mendapat izin dari Pak Yusuf, Bono berjalan menuju bangku saya, yang posisinya berada di deretan keempat dari depan.

Saat Bono sudah berdiri di samping meja saya, dia mengeluarkan satu buket bunga mawar dari dalam kantong kresek yang dibawanya. Adakah yang pernah mengalami masalah serupa?

Kemudian dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik, Bono menyerahkan bunga mawarnya ke saya: “Selamat hari Valentine!” Katanya dengan suara gemetar, sambil sedikit membungkuk dan senyum di wajahnya.

Saya hanya seperti, 'apa-apaan ini?'

Di saat itu, orang-orang di kelas sudah saling berbisik dan bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan oleh Bono.

"Apa, ah!' Jawab saya, mengabaikan, sambil terus menulis.

"Terima dong!" Kata Bono, memohon dengan sedikit mendesak.

"Gak suka bunga!"

"Sukanya apa?" Tanya Bono, masih dengan suara pelan.

Saya mulai merasa jengkel karenanya dan menjawab dengan suara agak keras, "Gak suka apa-apa!"

Saya dapat melihat seluruh orang kemudian memandang ke arah saya. Pak Yusuf bangkit dari kursinya:

"Ada apa?" Tanya Pak Yusuf, menyilangkan kedua tangannya ke belakang, sambil berjalan mendekat.

Bono menjadi gelisah; karena situasi tampaknya berubah menjadi buruk. Wajahnya hampir pucat dan menjadi seperti orang bodoh yang bingung mencari tempat sembunyi.

"Ini, Pak, " jawab saya ke Pak Yusuf, dengan nada tegas. "Ngasih hadiah valentin!"

Maaf kalau saya melakukan itu, tapi saya benar-benar perlu melepaskan diri darinya.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Pak Yusuf ke Bono, terlihat sangat kesal. Sebelum Bono dapat mengatakan apa-apa, Pak Yusuf bicara lagi, "Gak tau waktu!"

Terdengar sedikit kesal dan tidak ada lagi yang dikatakan oleh Pak Yusuf selain itu. Bono bergegas pergi meninggalkan ruangan di bawah pelototan mata Pak Yusuf. Itu adalah hal paling konyol yang pernah dia lakukan ke saya.

"Si Gelo" kata Indri, berbisik.

"Nih, buat kamu!" kata saya dengan suara pelan, memberikan bunga valentine yang diletakan begitu saja oleh Bono di atas meja.

"Ya, udah, " kata Indri, "buat Mamih di rumah."

"Bilang ke Mamih selamat hari Valentine dari Bono!" Kata saya ke Indri, setengah berbisik.

6

Siangnya, di kantin sekolah, saya duduk berdua dengan Indri, menikmati batagor dan teh panas.

"Sebetulnya Bono tuh cakep. Anak orang kaya lagi. Sayangnya nakal, " kata Indri.

Saya diam, seperti malas membahasnya.

"Kalau baik, " kata Indri lagi, "kamu pasti mau, ya?"

"Enggak, " jawab saya sambil terus makan batagor, "saya gak suka pacaran."

“Kenapa?” Tanya Indri.

"Saya gak suka jadi milik seseorang, " kata saya.

“"gois dong?"

"Saya lebih suka kalau tubuh saya dipake untuk penelitian sains, " jawab saya.

"Ha ha ha"

"Lebih berguna, kan?"

"Ah, teuing, ah"

"Pacaran tuh ribet!"

Indri tidak langsung merespon, karena sedang minum.

"Ngerepotin," kata saya lagi.

"Ya, sih."

"Si itu juga, siapa itu?" Kata saya. "Ria, ya?"

"Ria mana?"

"Itu …. yang tiap hari mesra, berdua terus kemana-mana."

"Oh, si Ria?"

"Kamu lihat, kan, nempel terus? "

"Iya."

"Tau-taunya, putus. Sampai si Rianya diopname, " kata saya. "Cinta macam apa itu?"

"Iya, gitu?"

"Gak tau, sih. Pokoknya pacaran mah ribet. Banyak nuntut ini itu. Mending kalau kita dikasih nafkah."

Terus terang saja, saya tidak terlalu suka dengan ide pacaran. Saya lebih ingin fokus pada sekolah dan meraih cita-cita yang saya inginkan. Setidaknya saya harus fokus belajar untuk siap menghadapi ujian EBTANAS, atau mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak.

Saya masih ingin bisa bepergian dan melakukan apa pun yang saya suka. Dan semua itu tidak akan bisa dicapai kalau saya harus mempertimbangkan orang lain, terlebih lagi kalau orang itu merepotkan dan cemburuan.

Saya masih ingin mendapatkan tempat dalam hidup di mana saya bisa menetapkan standar hidup saya sendiri. Tidak perlu melapor kepada pacar kalau mau tidur. Tidak perlu melapor ke pacar kalau mau berpergian, tidak perlu menyesuaikan perilaku saya agar sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang akan menilai saya kecuali saya sendiri. Tidak akan ada yang kecewa kecuali saya sendiri. Itu akan terasa bebas dan ringan jadinya.

"Kamu sendiri kenapa gak pacaran?" Tanya saya ke Indri.

"Kalau saya tuh bimbang, euy."

"Bimbang apa?"

"Bimbang antara sayanya mau ke si Dudi, dengan si Dudinya yang enggak mau ke saya!"

"Ha ha ha!"

Dudi yang dimaksud oleh Indri adalah ketua OSIS. Indri sering bilang ke saya bahwa dia naksir Dudi, tapi Indri tidak bisa berbuat apa-apa, karena Dudi lebih memilih Nana, gadis tercantik di sekolah dengan rambut model Shaggy Bob sebahu dan pernah menjadi model sampul majalah remaja.

"Kalau kata saya mah, kamu sama si Dudi itu, mau sama mau!" Kata saya ke Indri.

"Ngarang!"

"Iya, kamu mau ke si Dudi, si Dudi mau muntah! Hahahaha!"

"Gelo, siah!"

Tidak lama kemudian, datang Santika, Lilis dan Epon, bergabung dengan kami. Mereka semua satu kelas dengan saya.

"Tadi si Bono ngapain sih?" Tanya Epon.

"Jual bunga!" Jawab saya.

"Nyatain, ya?" Tanya Lilis.

"Unik, ih!" kata Santika.

"Unik, apa?" tanya saya.

"Unik aja, " jawab Santika. "Nyatain di kelas, gitu loh, pas belajar! Mana ada yang gitu."

"Itu, mah, mengganggu!" Kata saya, "bukan unik!"

"Harusnya tadi tuh, Si Bono, ngasih bunganya ke kamu!" Kata Indri ke Santika, "pasti diterima!"

"Enggak lah, " jawab Santika. "Aku udah punya!"

"Pacar?"

"Bunga, " jawab Santika ketawa, "banyak di depan rumah!".

Jadi, itulah beberapa cerita tentang apa yang sudah Bono lakukan ke saya. Sejujurnya saya sendiri bingung mengapa dia mau ke saya, padahal ada banyak gadis menarik di luar sana. Dan memang begitulah adanya.

BAB II

Bertemu Dilan

1

Di bulan Juni tahun 1995, saya ikut bimbingan belajar (bimbel) yang lokasinya di daerah jalan Dipatiukur. Jadwal belajarnya tiap hari Rabu dan Sabtu, yang dimulai dari pukul 15:00 sampai pukul 17:00.

Di sana, saya mulai mengenal Bagas, Ipul dan Iksan. Mereka sering terlihat bertiga. Datang ke tempat bimbel bertiga, pulangnya juga bertiga, menggunakan mobil Bagas. Saya sempat bertanya-tanya apakah mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama-sama? Ternyata ketiganya, sekolah di tempat yang sama, yaitu di salah satu SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu.

Dua bulan kemudian, salah satu yang saya sadari adalah saya menjadi akrab dengan mereka. Sampai saat itu saya pernah pergi bersama mereka ke acara try out menggunakan mobil Bagas dan pulangnya makan pecel lele di warung pinggir jalan yang ada di daerah jalan Dipatiukur.

"Kamu asli Bandung, ya?" Tanya Iksan dengan mulut mengunyah makanan. Sikunya bersandar di atas meja.

"Iya," jawab saya, "Papa asli Bandung. Mama juga, tapi kalau Mama ada darah Sumedangnya."

"Ican pikir, kamu orang mana …"

Iksan menyebut dirinya Ican. Dan, kamu harus tahu meskipun Iksan seorang laki-laki, cara bicaranya seperti seorang perempuan, begitu pula dengan gerakan fisiknya. Dia sangat emosional, terbuka, dan empatik.

"Tau, gak pertama lihat kamu, takut Ican mah, " kata Iksan.

"Kenapa?" Tanya saya.

"Jutek!" Jawab Iksan langsung, dengan nada emosional.

Saya tertawa, dan menjawab, "Aku tidur juga jutek!"

"Ha ha ha"

Ya, hari itu, kami ngobrol sambil makan, sampai Bagas nanya ke saya:

"Kamu pulang naik angkot?"

"Iya, kayaknya, " jawab saya.

"Dianter aja."

"Jauh, loh?" Kata saya.

"Gak apa-apa, " jawab Bagas, "Daerah Ciwastra, kan?'

Akhirnya, saya pulang diantar Bagas. Ipul dan Iksan ikut. Saya duduk di depan. Mobil terus melaju, melewati jalan Gatot Subroto. Ada begitu banyak hal yang kami bicarakan sekedar untuk mengisi keheningan di sepanjang perjalanan.

Saat itu juga Bagas cerita tentang dirinya yang punya minat besar pada musik. Katanya, dia punya group band, yang sudah berkembang cukup baik. Setiap sabtu malam dan kadang-kadang di hari minggu, band Bagas suka tampil di berbagai acara, termasuk di cafe, atau di acara pernikahan.

"TKW, dong?" Tanya saya.

"TKW tuh apa?" Tanya Bagas.

"Tenaga Kerja Wedding."

"Ha ha ha. Iya. "

Sebetulnya Bagas tidak bisa dikatakan membual, karena saya sering melihat ada beberapa siswa bimbel yang mencoba bisa dekat dengan Bagas. Salah satunya adalah si Kang Toyi, office boy di tempat bimbel. Saya bahkan pernah melihat Kang Toyi meminta Bagas untuk memberi tandatangan di kaos oleh-oleh Pangandaran miliknya.

Lima bulan ke depan ini, kata Bagas, dengan penuh antusias, bahwa Bagas dan kawan-kawan sedang menyiapkan materi untuk membuat album musik yang akan diproduksi oleh label rekaman terkenal yang ada di Jakarta.

"Ngatur waktunya gimana?" Tanya saya. "Kan, kamu harus sekolah?"

"Ada manajer."

"Bagas main apa?"

"Bagas megang gitar."

"Kali-kali Cika nonton deh, kalau Band Bagas manggung, " kata Iksan.

"Insya Allah."

Melalui obrolan dengan mereka saya jadi tahu siapa Bagas, Ipul dan Iksan. Bahkan menurut saya beberapa hal terlalu pribadi, dan sebetulnya saya tidak benar-benar ingin tahu, tapi mereka mengatakannya. Mungkin pada dasarnya mereka hanya ingin mengatakan apa adanya

Ayah Bagas adalah pengusaha sukses di Bandung. Rumahnya di daerah Tegal Lega. Ibunya Bagas lumayan cukup dikenal di masyarakat Jawa Barat sebagai seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu bahasa Sunda. Di sini, saya harus menahan diri untuk tidak menyebut namanya, demi menjaga rasa nyaman bagi semuanya.

"Ayah Ican kerja di ayahnya Bagas, di perusahaan ekspor impor … " kata Iksan, menambahkan.

"Ayah Ipul juga?"

"Ayah Ipul bertani, " jawab Ipul.

"Keren!!!!"

Dalam waktu satu jam, akhirnya kami sampai di rumah saya, di sebuah kompleks perumahan Margahayu Raya. Lokasinya kira-kira lima ratus meter dari jalan raya Ciwastra.

Saya ditegur Mama karena saya pulang telat. Setelah saya jelaskan, Mama hanya bilang, lain kali, kalau mau kemana-mana, telepon dulu ke rumah, biar orang di rumah tidak khawatir.

2

Saya mandi, dan gosok gigi, kemudian, yang ingin saya lakukan hanya diam di kamar. Membuka tirai, memandang ke halaman depan rumah, yang dibiaskan oleh hujan di kaca jendela.

Itu malam kamis, ada beberapa tugas sekolah yang harus saya kerjakan. Tapi saya masih ingin rebahan dulu di tempat tidur, sambil membaca buku diiringi oleh lagu-lagu dari tape deck yang ada di atas meja belajar.

Beberapa menit kemudian, Mama masuk ke kamar. Dia membawa teh jahe untuk saya yang dia simpan di atas meja belajar.

"Besok Abah ulang tahun, " kata Mama.

Saya berhenti baca buku dan menoleh ke Mama, "Oh, iya!"

"Mama, hari minggu, mau ke rumah Abah."

Saya bangkit dari rebahan, "Sekarang Abah sudah tidur belum, ya?" Tanya saya.

"Mau apa?"

"Nelepon, " jawab saya.

"Besok aja."

"Atau besok, sepulang sekolah, Teteh ke rumah Abah, ya?"

"Mau bareng sama Mama, Minggu. Hayu!"

"Besok aja deh Teteh, mah!"

Abah yang kami maksud, adalah kakek saya, atau Ayah dari Mama saya. Dia tinggal di daerah Batu Nunggal, Bandung, dan tinggal berdua bersama Emak.

Abah dan Emak punya tiga anak. Mama merupakan anak sulungnya. Anak keduanya, yang biasa saya pangil: Mang Dadi. Dia sudah berkeluarga, punya anak dua dan tinggal di Cijerah.

Sedangkan Mang Anwar, adalah anak bungsu Abah. Saat itu dia masih kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di daerah Tamansari.

Mang Anwar tinggal di rumah saya, dari sejak masih SMP. Kamarnya di lantai atas, berdampingan dengan kamar Beni, adik saya satu-satunya, yang saat itu masih kelas tiga SMP.

Setelah Mama keluar kamar, saya duduk di bangku meja belajar, mengerjakan beberapa tugas sekolah, meskipun sebetulnya ingin tidur.

Kira-kira 30 menit kemudian, saat saya sedang membolak-balik halaman buku, telepon rumah berdering, dan itu dari Bagas yang mengajak saya, jalan-jalan ke Cikapundung bareng Iksan dan Ipul. Bagas bilang, katanya mereka mau cari buku di sana.

Itu menarik, karena saya suka buku. Apalagi beli bukunya di pasar buku Cikapundung, tempat ada begitu banyak lapak yang menjual buku-buku bekas. Sebagian besar adalah buku-buku import dan berkualitas. Majalah bekas juga ada, kaset bekas juga ada, majalah dewasa juga ada, kartu remi bergambar wanita bugil juga ada, termasuk novel esek-esek.

Memang tidak selalu merupakan hal yang baik, tetapi sebagian besar mengagumkan. Anak-anak muda mesum akan berterima kasih atas jasanya. Khusus barang-barang seperti itu, tidak dijual secara sembarangan, karena kalau ketahuan bisa ditangkap polisi.

"Mau ikut, gak?" Ajak Bagas.

"Kapan, emang?"

"Besok, sepulang sekolah, yuk?"

"Besok … saya mau ke rumah kakek saya, euy."

"Ke Cikapundungnya, setelah dari rumah kakekmu aja."

"Ketemuan di Cikapundung?" tanya saya.

"Bagas jemput, deh, ke sekolah."

"Gak usah, " jawab saya. "Gimana kalau ketemuan di Trina?"

"Trina?"

Trina yang saya maksud adalah satu-satunya Toserba yang ada di daerah Buah Batu saat itu.

"Saya mau beli kado dulu, buat kakek."

"Oke. Jam berapa dijemput?"

"Jam … satu kayaknya."

"Oke."

3

Besoknya, setelah dari Trina, saya, Bagas, Iksan dan Ipul langsung pergi ke rumah Abah. Rumahnya tidak terlalu besar tetapi halamannya seluas dua lapangan volley. Ada beberapa bangku kayu yang sengaja ditempatkan di sana, agar kalau keluarga besar Abah kumpul, tidak akan kekurangan tempat duduk, terutama di hari lebaran.

Setelah Bagas memarkirkan mobilnya, kami mulai memasuki halaman rumah Abah dan melihat ada empat motor yang sedang diparkir. Saya juga melihat Mang Anwar sedang duduk di kursi rotan bersama tiga orang temannya di bawah pohon kersen. Saya tidak mengenal mereka, dan belum pernah bertemu dengan mereka.

Kemudian, karena saya merasa tidak akan berlama-lama di rumah Abah, saya menyuruh Bagas, Iksan dan Ipul untuk menunggu dan duduk di bangku kayu dekat tumpukan bata merah di sudut lain halaman. Kira-kira empat meter jaraknya dari tempat berkumpulnya kawan-kawan Mang Anwar.

Saya melihat Mang Anwar berdiri dari duduknya, berjalan menyongsong saya.

"Abah ada?" Tanya saya, setelah berjalan bersama Mang Anwar, melintasi halaman, untuk masuk ke rumah Abah.

"Ada."

"Itu siapa?" Tanya saya, hampir berbisik ke Mang Anwar.

"Temen-temen Mang Anwar."

"Oh!" Kata saya sambil membuang permen karet, yang sedari tadi saya kunyah, ke tempat sampah.

Di dalam rumah, saya melihat Abah sedang rebahan di bangku malas. Sementara itu Emak sedang memasak di dapur.

"Selamat ulang tahun, Abah, " kata saya langsung dan mencium keningnya.

Abah bangkit dan duduk di samping saya. Dia senang mendapat hadiah sweater dan doa dari saya. Matanya berkaca-kaca. Baru setelah itu Emak datang, bergabung dengan kami.

"Abah doain, Teteh panjang umur. Sehat terus. Banyak rizkinya. Sukses mencapai cita-cita."

"Aamiin."

"Cepet ketemu jodoh, " kata Emak.

"Masih mau sekolah, Mak!" jawab saya.

"Jodoh mah jorok. Bisa kapan aja, bisa di mana saja, " kata Emak lagi.

"Iya, Mak, " jawab saya. "Mama, insya Allah, mau ke sini hari Minggu," lanjut saya ke Abah dan Emak.

"Iya."

Setelah dirasa cukup, saya pun pamit pulang, bersamaan dengan Mang Anwar yang bergegas pergi ke toilet di belakang rumah.

4

Sesaat setelah keluar dari rumah Abah, saya duduk di tangga rumah Abah, untuk memakai sepatu. Dari sana saya bisa melihat Bagas, Iksan dan Ipul sedang berdialog dari jarak jauh dengan kawan-kawan Mang Anwar.

Saya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, karena antara saya dengan mereka berjarak kira-kira enam meter. Saat itu saya hanya berpikir bahwa mereka mulai saling berkenalan selama menunggu saya kembali.

Saya mulai berjalan untuk menemui Bagas, Iksan dan Ipul, sambil memasukkan permen karet baru ke mulut dan mengunyahnya.

Mengetahui saya datang, Bagas, Ipul dan Iksan langsung berdiri dari duduknya.

"Yuk!" Ajak saya setelah bergabung dengan Bagas, Ipul dan Iksan.

Kata-kata itu dimaksudkan untuk mengajak mereka pergi. Tapi tiba-tiba kawan Mang Anwar yang memakai jaket US-ARMY, berkata:

"Bentar, Kak!" Katanya.

Kami semua menoleh ke arahnya dan saya sedikit berpikir apa yang dia inginkan.

"Kalau kamu namanya siapa?" Tanya orang itu, mendongakan kepalanya, memandang Ipul dengan nada otoriter yang aneh.

"Siapa, Kang?" Tanya Ipul, suaranya sedikit gemetar.

"Iya, kamu, " katanya.

"Ipul, Kang, " jawab Ipul.

"Upil?" Tanya orang itu, mengerutkan keningnya.

"Ipul, Kang, " jawab Ipul.

"Oh!" jawab orang itu, dengan wajah seperti benar-benar baru mengerti, kemudian bertanya lagi.

"Kalau kamu, yang pake rompi, siapa namanya?"

"Iksan, Kang."

"Sudah pernah bunuh diri belum?" Tanya orang itu, pura-pura bego

Saya benar-benar terkejut dan bingung untuk apa dia bertanya seperti itu.

"Belum, Kang!" Jawab Ipul

"Udah nikah belum?" Tanya orang itu lagi, ke Ipul

"Belum, Kang, " jawab Ipul.

Dia kemudian mengomentarinya dengan, "Wow!" Sementara itu, teman-temannya saling menahan senyum dengan membuang muka ke arah lain. Sesuatu yang tidak saya sukai.

Kemudian orang itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya, yang membuat saya yakin bahwa dia hanya sedang memperlakukan teman-teman saya menjadi tampak bodoh.

Itu terus berlanjut dengan pertanyaan seperti: ‘Berani gak melawan Advent Bangun?’, bisa, gak, membuat pesawat CN25’ dan lain-lain.

Saya merasa seperti 'apasih?'. Kemudian saya memintanya untuk berhenti, "Maaf, Kang, kami harus pergi, " kata saya ke orang itu. Saya sudah mencoba untuk menjadi sopan, tapi orang itu malah tersenyum aneh ke saya. Sepertinya dia agak tidak bereaksi dengan baik terhadap apa yang baru saja saya katakan, lalu dia bertanya ke saya dengan mendongakkan wajahnya, sambil melakukan kontak mata dengan saya.

"Kalau kamu … namanya siapa?"

Pertanyaan itu hanya membuat saya semakin ingin melawan daripada menjawab.

Saya menyipitkan mata dan menatapnya dengan kesal, sambil mengunyah permen karet, "Gak punya nama!" Jawab saya langsung. Pasti terdengar ketus.

Dia tetap tenang, seolah-olah dia tidak keberatan saya bersikap tidak baik padanya.

"Masa?" Katanya, kemudian, sambil mengangkat alis.

Stop! Saya tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menanggapi orang aneh seperti dia. Jadi, akhirnya saya pergi begitu saja, diikuti oleh Bagas, Iksan dan Ipul.

5

Di mobil, saya tahu, seharusnya saya tidak perlu bersikap dramatis dan berlebihan seperti itu, mengingat dia adalah kawan Mang Anwar, tapi dia sudah keterlaluan dan menjengkelkan.

"Ngapain sih dia?" Tanya saya dengan nada dongkol, ke Bagas, Ipul dan Iksan ketika sudah mulai masuk mobil.

"Katanya mau disensus, " jawab Iksan.

"Sensus apa?"

"Gak tau."

"Lagian, percaya aja kalian," kata saya.

"Maksa-maksa doi."

Bagas, Ipul dan Iksan, kemudian mulai memberi saya beberapa informasi singkat tentang orang yang pake jaket US Army itu.

Kata mereka, dia adalah alumni di sekolah mereka, namanya Dilan, mantan panglima tempur geng motor yang ada di Bandung.

"Geng motor?" Tanya saya, serta merta saya jadi inget si Bono.

"Pokoknya jangan macam-macam sama orang itu," kata Ipul.

"Gak takut!" Jawab saya.

"Lapor aja ke polisi," kata Iksan.

"Dia anak kolong," kata Ipul.

"Apa tuh?" Tanya saya.

"Anak tentara."

"Ngapain, takut tentara? Tentara itu pelindung rakyat, bukan pelindung anak nakal!" Kata saya.

"Iya, sih."

Dan, sore itu, setiap orang memiliki pendapatnya sendiri tentang Dilan yang dapat di katakan.

Sedangkan menurut saya pribadi, orang yang bisa disamakan dengan si Dilan adalah Bono, orang yang suka melakukan pelanggaran dan membuat kekacauan. Mengganggu perempuan, atau mabuk-mabukan, narkoba, kemudian lebih jauh lagi melakukan tindakan kriminal.

Bersambung lagi...


sumber : di sini

You Might Also Like:

Posting Komentar