Kamar No. 4 - Jodoh Settingan

advertisement
Journal Kang Ibay - Karena ada pergumulan di salah satu kamar berukuran -/+ 5x5m tanpa kipas angin tanpa suara nyamuk, pintu terbuka karena tidak ada ventilasi kalo ditutup. 3 pemuda perubah dunia yang bergosip tentang "jodoh settingan" sudah di setting oleh pikiran mereka sendiri, oleh lingkungan, oleh masyarakat.

Permana membuka pembicaraan bahwa sebeneranya Bidan sudah dipasangkan dengan Polisi atau Dokter, dan Perawat sudah dipasangkan dengan Tentara, terus kita? anak Sistem Analis, jodohnya siapa? coding.

Saya yang terjebak dalam pembicaraan tersebut sempat berfikir, sepertinya memang demikian, karena realita yang terjadi di lapangan seperti itu, oh ya Permana menginginkan seseorang yang akan mendampinginya adalah Bidan paling engga Perawat (emang beda ya?) apadaya dia hanya seorang Analis Sistem nubie :).

Apri membalas, "makanya harus di tag, pas masih SMA, cewek saya aja udah di tag dari SMA." Ide nya bagus juga, jadi ketika masih SMA/SMK harus getol wawancara beberapa inceran, mau dilanjutkan kemana dia setelah lulus. Kalo berniat ambil kuliah Kesehatan, tag. kalo engga, next.

Kamar No 4 : Bagian Akhir

"Susah uy. harus punya motor/mobil ?" Permana membela diri. Apalagi ini, sepertinya dengan kekayaan perasaan seorang wanita bisa di beli. Walaupun sebenarnya seorang pria berpikir seperti itu, karena ingin membahagiakan orang yang dia sayang, kalo punya motor, jangan sampe ngangkot, kalo punya mobil, biar ga kehujanan, kan so sweet.

Bagi pria, ternyata ada kekhawatiran bahwa apa yang di mau berbanding lurus dengan alasan ketidakmampuannya. Seseorang yang menginginkan jodoh seorang bidan, pesimis karena dirinya bukan polisi, tentara ataupun doktor. Mindsetnya kalo mau sama bidan minimal tiket emas untuk mengabulkan keinginannya harus jadi polisi, tentara atau doktor

Berbicara soal mindset, ada beberapa faktor yang membentuk mindset itu sendiri, faktor yang sangat kuat membentuk mindset adalah adanya realita yang kita lihat secara langsung terus menerus berulang menjadi yakin bahwa hal itu adalah benar. Contoh : teman kita polisi menikah dengan seorang bidan, dan hidupnya bahagia. dengan seperti itu dia yakin kalo ingin bahagia jadilah polisi dan nikah sama bidan.

Febri, teman saya yang satunya sedang asik memainkan laptop (pacarnya bidan juga btw), ditanya gimana kalo ada yang ambil alih misalnya dokter, atau perawat (cowok) di lingkungan pekerjaannya, jawaban enteng ga pake mikir, meluncur dari mulutnya tanpa menoleh kepada si pe-nanya "biarin, akan dapet yang lebih baik."

Itu lah realita, yang satu ingin mendapatkan seorang pendamping yang menurut dia ideal, satunya merelakan terkesan cuek pada apapun yang terjadi padahal calonnya adalah sosok ideal bagi yang satunya.

Ketika saya bertanya : "kalo udah dapet yang Permana mau, terus bagaimana?" Apri menyambung, "serunya itu ketika PDKT, kalau udah dapat yaudah gitu-gitu aja bosen, cewek jual mahal, kita cowok yang jual murah, pas udah jadian, hmm.. kita (cowok) yang berkuasa, hahaha"

Iya... kalo Permana nya suka, kalo ceweknya ga suka? Ada cewek yang suka sama kamu, tapi bukan tipe kamu gimana? beberapa pertanyaan saya tanyakan meskipun pertanyaan sebelumnya belum dia jawab.

Saya tersenyum melihat tampang Permana yang tiba-tiba menatap langit-langit sambil berbaring, mengusapkan tangannya ke dahi, sepertinya dia sedang mengambil sesuatu jauh ke dalam memory ingatannya beberapa tahun kebelakang, tentang wanita yang pernah dia ceritakan.

Salam,
Admin
advertisement
SHARE ON :

Artikel Terkait

Kamar No. 4 - Jodoh Settingan
4/ 5
Oleh

Subsribe

Masukkan alamat email Sobat untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan pesan baru melalui email.

Load comments