Dia adalah Dilanku tahun 1990 - Pidi Baiq

advertisement
1
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan jeruk.

Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah prajurit TNI Angkatan Darat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Ibuku, namanya Marissa Kusumarini. Oleh teman-temannya biasa dipanggil Icha. Dia mojang Bandung yang lahir di Buah Batu. Sebelum dinikah dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya.

Dia adalah Dilanku tahun 1990

Ibuku, meski waktu itu masih remaja, tapi sudah bermain musik sama orang-orang yang sudah tua dan keren, seperti Uwak Gito Rollies, Kang Deddy Stanza. Juga dengan Kang Harry Rusli, yang waktu itu bikin kelompok musik Gang of Harry Roesli. Dan kata ibu, mereka semua adalah gurunya.

Menurutku, ibu punya suara yang bagus. Sepanjang waktu selalu siap untuk nyanyi atau bersenandung di mana saja, terutama di kamar mandi dan di dapur ketika masak. Dia juga suka bermain gitar sambil nyanyi di ruang tamu dan menyebut nama Bee Gees ketika kutanya lagu siapa itu?

"Ini judulnya "I Started A Joke"," jawab ibu.
"Bagus! Aku suka."

Oleh dirinya, musik benar-benar menjadi bagian dari keluarga. Dan ayah mendukungnya dengan kekuatan militer.

Aku merasa bersemangat tentang hal ini. Dia menyambut anak-anaknya kepada pengalaman seninya. Membantuku untuk melihat banyak hal dalam lebih dari satu sudut pandang. Menjadi terbuka untuk semua ekspresi. Ini menjadi hal penting untuk kau bisa memahami kepribadianku.

ayah airin ibu

Sejak kecil, aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan Slipi. Tahun 1990, ayahku dipindah tugas ke Bandung, sehingga ibuku, aku, adik bungsuku, pembantuku, dan semua barang-barang di rumah pun jadi pada ikut pindah.

Rumahku, yang di Buah Batu, tepatnya di Jalan Banteng, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi, kakekku sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989.

Kabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum kami pindah, nenekku wafat.

rumahku

Rumah nenek yang berukuran type 70 itu, kemudian jadi milik ibuku sepenuhnya, karena ibuku anak tunggal. Ada halaman di depannya, meskipun ukurannya tidak luas, tapi cukup. Tempat tumbuh berbagai bunga dan satu pohon jambu, yaitu jambu batu, yang ibuku suka kesel kalau sudah mulai banyak ulatnya.

2
Aku juga pindah sekolah ke SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu, Bandung.

Bagiku, itu adalah sekolah yang paling romantis sedunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia, lah. Bangunannya sudah tua, tapi masih bagus karena keurus.

Di halaman depan sekolah, ada tumbuh pohon besar. Cabangnya banyak dan bagus kalau dilihat senja hari, dan siang kalau mendung, juga pagi kalau mau. Sebagian orang percaya pohon itu berhantu, tapi aku gak takut, kecuali kalau harus tidur sendirian di situ malam hari.

Tahun 2001, waktu aku datang untuk reuni, aku sudah tidak melihat ada pohon itu lagi di sekolah. Entah kapan ditebangnya.

Dulu, jalan yang ada di depan sekolahku, cuma jalan biasa. Lebarnya kira-kira tiga meter dan belum banyak kendaraan yang lewat, termasuk angkot. Sehingga untuk bisa nyampe di sekolah, aku harus mau berjalan sepanjang kira-kira 300 meter, yaitu setelah aku turun dari angkot di daerah
pertigaan jalan itu.

Sekarang jalan itu sudah berubah, sudah jadi jalan raya yang dipadati oleh banyak kendaraan. Dulu, motor juga belum banyak. Hanya beberapa orang saja yang pake. Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo.

Rasanya, waktu itu, Bandungnya masih sepi, masih belum banyak orang. Tiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk memakai sweater atau jaket kalau punya. Dan kalau cuaca sangat dingin, akan keluar uap dari mulutmu, yaitu ketika kau bicara.

Bagiku, selain bagus dan romantis, sekolah itu adalah tempat khusus yang menyimpan kenangan masa laluku ketika masih remaja, terutama menyangkut seseorang yang pernah bersamaku, yang
pernah selalu mengisi hari-hariku.

Itu adalah kenangan yang paling susah kulupakan, bahkan ketika aku ingin. Dan malam ini akan aku ceritakan kisahnya, bersama rindu yang tak bisa kuelakkan

Kisah itu akan aku tulis semuanya sesuai dengan apa yang terjadi waktu itu, meskipun tidak akan mungkin detail, tetapi itulah intinya. Beberapa nama tempat dan nama orang ada yang sengaja kusamarkan, untuk tidak merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan orang yang bersangkutan.

Semua, akan kutulis dengan menggunakan cara si dia di dalam bergaya bahasa. Entah gaya apa, pokoknya kalau dia bicara, bahasa Indonesianya cenderung agak Melayu dan nyaris seperti baku. Kedengernya sedikit tidak lazim, seperti bahasa Melayu Lama yang biasa digunakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Tapi, itu bukan hal yang penting untuk kita persoalkan, ini cuma caraku saja untuk sekadar bisa mengenang khas dari dirinya

Sebelumnya, aku mau cerita dulu di mana posisiku yang sekarang. Malam ini, aku sedang di ruang kerjaku bersama hot lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan Jakarta Pusat yang gerah.

Mari kita mulai, dan inilah ceritanya:

3
Pagi itu, di Bandung, pada bulan September tahun 1990, setelah turun dari angkot, aku berjalan bersama yang lain untuk menuju ke sekolah.

Sebagian ada yang jalan berkelompok, sedangkan aku berjalan sendirian, menembus kabut tipis bersama udaranya yang dingin. Cahaya matahari yang menerobos dedaunan, membuat bercakan cahaya di jalan aspal yang sedang aku lalui.

Saat itulah aku mendengar suara sepeda motor yang datang dari arah belakang. Suara knalpotnya sedikit agak berisik, lalu kutengok sebentar, pengendaranya memakai seragam SMA, kemudian aku mencoba untuk tidak fokus pada itu.

Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman, bahkan aku gak tahu apa yang harus kulakukan selain terus berjalan. Aku gak tahu apa yang dia inginkan.

Aku hanya berpikir dia adalah salah satu dari anak nakal di dunia, yang suka menggoda perempuan di jalanan. Pikiranku mengembara. Meskipun saat itu banyak orang yang pada mau pergi sekolah, aku merasa harus tetap waspada, khawatir barangkali dia mau berbuat buruk kepadaku.

Aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa dia akan menyapaku kemudian:
“Selamat pagi,” katanya.

Sebenarnya aku bingung bagaimana harus memahami situasi macam itu. Aku mencoba menyembunyikan diriku yang gugup.

Kulihat wajahnya sebentar, dia tersenyum. Aku menjawab sambil mendorong helaian rambutku ke belakang telinga: “Pagi,”
“Kamu Milea, ya?”, tanya dia kemudian, mencoba membuat percakapan
“Eh?” Aku tersentak. Kutoleh lagi dirinya, memastikan barangkali aku kenal, nyatanya tidak.

Dia menatapku dan tersenyum.
“Iya.”, kataku. Alasan utamaku menjawab adalah sekadar untuk bisa bersikap ramah
“Boleh gak aku ramal?” dia nanya lagi
“Ramal?”

Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Apa maksudnya? Kok, meramal? Kok, bukan kenalan? Aku tidak mengerti.

“Iya,” katanya. “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin.”

Dia pasti ngajak bercanda, tapi aku gak mau. Maksudku, aku tidak mau bercanda dengan orang yang belum kukenal. Asli, aku gak tahu siapa dia. Betul-betul gak tahu. Mungkin satu sekolah denganku, tapi aku belum mengenal semua siswa yang ada di sekolahku, termasuk dirinya. Harap maklum, aku hanya murid baru. Baru dua minggu.

“Mau ikut?” dia nanya.

Enak aja, belum kenal sudah ngajak semotor. Bagaimana bisa begitu mudah baginya? Aku tidak bisa mengerti!
“Makasih,” jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Oke,” katanya. “Suatu hari, kamu akan naik motorku. Percayalah.”

Kupilih diam, karena gak tahu harus gimana.
“Duluan, ya!” katanya kemudian.
Kupakai bahasa wajah, untuk mengungkap kata “iya”.
Habis itu, dia pergi, memacu motornya.

Kupandang dia yang berlalu. Baju seragamnya berkelebatan, dan rambutnya berantakan diembus oleh angin.

Huh!

meramal

Di kelas, sebelum pelajaran dimulai, aku cerita ke Rani dan Nandan (teman sekelasku yang sudah agak akrab denganku) tentang ada seorang anak SMA bermotor yang tadi bilang mau meramalku.
“Siapa?” tanya Rani.
“Gak kenal,” kujawab bersamaan dengan guru masuk untuk memulai pelajaran.

4
Waktu jam istirahat, tadinya aku mau ke kantin, tapi sama sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. Boro-boro, kepikiran juga enggak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk kuminum. Tapi Nandan, Ketua Murid kelas 2 Biologi 3, minta waktu ingin ngobrol denganku, katanya ada yang mau dibahas. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar diasaja yang beli. Makasih kataku, kemudian dia pergi ke kantin.

Ketika balik lagi, dia membawa beberapa teh kotak. Saat itu, di kelas, selain ada Nandan, juga ada Rani dan Agus. Hal yang dibahas adalah tentang keinginan mereka untuk menunjuk aku menjadi sekretaris, dan sekaligus menjadi bendahara kelas 2 Biologi 3. Aku, sih, oke-oke saja. Bagiku, gampang, lah, itu.

Pada waktu kami sedang ngobrol, muncul seseorang yang bilang permisi, lalu masuk ke kelas. Nandan, Rani, dan Agus, tahu siapa dia. Orang itu namanya Piyan, siswa dari kelas 2 Fisika 1,
datang memberi aku surat, katanya itu surat titipan dari kawannya, tapi dia tidak menyebut nama kawannya itu.

Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca surat itu:

“Milea, ramalanku, kita akan ketemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi, aku mau meramal lagi: Besok, kita akan ketemu.”

Habis itu aku langsung bisa tahu siapa gerangan pengirim surat. Ini pasti dia, orang yang tadi pagi naik motor dan bilang mau meramal.

Nandan nanya ingin tahu surat apa itu, tapi kubilang itu surat biasa saja.

Aku masukkan surat itu ke dalam tas sekolah, untuk kembali menyimak Nandan yang banyak bicara tentang ini itu dan lumayan membosankan.

Serius, dari semenjak kudapat surat itu, aku sudah tidak bisa lagi konsentrasi dengan kata-kata mereka. Entah Nandan ngomong apa. Pikiranku, entah gimana, sebagian besar, mendadak melayang kepada Sang Peramal

5
Hari hujan ketika bubar sekolah. Aku dijemput pamanku. Dia itu adik dari ayahku, mahasiswa Jurusan Arsitektur tingkat akhir di perguruan tinggi swasta yang ada di Bandung, namanya Fariz. Dia sudah lama di Bandung dan kos di jalan Ciumbuleuit.

Ayah nyuruh paman menjemputku, supaya bisa lekas datang ke rumah dinasnya, karena ada sedikit keperluan.

Di jalan pulang, entah gimana, ramalan orang itu yang bilang bahwa besok akan bertemu, terus saja kepikiran.

Apa? Besok bertemu? Bukankah besok itu hari Minggu?

Segera aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. Bagaimana mungkin bisa bertemu, kalau tidak di sekolah?

Dari awal, aku sudah tahu dia itu memang tukang ramal amatir! Aslinya sih hanya anak nakal, yang suka iseng menggoda perempuan. Huh!

Atau kalau itu baginya adalah modus untuk mendekati diriku, dia harus segera tahu bahwa aku ini orangnya selektif.

6
Di hari Minggu, waktu aku sedang nyuci sepatu, aku mendengar bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku teriak manggil Si Bibi untuk meladeni tamu itu.

Kebetulan, hari itu, di rumah, hanya ada aku dan Si Bibi. Ayah, ibu, dan adik bungsuku sedang pergi ke Cijerah untuk acara pernikahan saudara.

Si Bibi bergegas nemui tamu itu, lalu balik kembali menemuiku:
“Tamu,” katanya. “Mau ke Lia.” Lia itu nama panggilanku di rumah.

Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana, nemui tamu itu.

Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah Sang Peramal.

Aku senyum kepadanya yang tersenyum kepadaku. Entah gimana, saat itu aku merasa seperti sedang menjalin kontak batin antara aku dengannya, membahas apa yang diramalnya benar-benar terjadi, tetapi tidak saling dikatakan.
“Hei,” kusapa dia.
“Ada undangan,” dia langsung bilang begitu, seraya menyodorkan sebuah amplop dan berdiri, di depan pintu.
“Undangan apa?” kupandangi amplop itu dan sedikit agak bingung.
“Bacalah,” katanya. “Tapi nanti.”
“Oke,” kataku memandangnya.
“Bacalah bahasa Arabnya apa, Yan?”
Dia nanya ke Piyan yang saat itu datang bersamanya.
“Apa, ya?” Piyan balik nanya.
“Oh! Iqra,” katanya menjawab pertanyaan sendiri.
“Iqra, Milea!” kata dia lagi kepadaku.
Aku ketawa tapi sedikit. Entah mengapa, hanya bisa sesekali saja kupandang matanya.

dilan milea piyan

“Aku langsung, ya?” katanya permisi untuk pergi.
“Kok, tahu rumahku?” kutanya.
“Aku juga akan tahu kapan ulang tahunmu.”
“He he he.”
“Aku juga tahu siapa Tuhanmu.”
“Allah,” kujawab sendiri.
“Iya, kan?”
Aku jawab hanya dengan senyum.
“Aku pergi dulu, ya?” kata dia.
“Iya,” kujawab.
“Assalamu ‘alaikum jangan?!” dia nanya.
“Assalamu ‘alaikum,” jawabku.
“Alaikum salam,” katanya.
Aku gak tahu harus bilang apa, selain cuma bisa senyum.

6
Aduh, Tuhan, siapa, sih, dia itu! Tanyaku dalam hati.

Maksudku, selain seorang peramal, aku ingin tahu siapa dia itu sesungguhnya. Dan, mengapa tadi aku harus gugup di depannya?

Aku masuk kamar dan senyum sendiri, terutama karena memikirkan soal ramalannya yang benar. Tapi, kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal ramalan itu? Atau sengaja? Ah, entahlah.

Aku baca surat undangan darinya itu sambil selonjoran di atas kasur.

Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS:

“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” 

Semua nama hari di jadwal itu, lengkap disertai dengan tanggal. Aku senyum. Di dalamnya ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. Itu adalah nama kepala sekolahku, ditulis sebagai orang yangturut mengundang. Aku istigfar! Di tiap sisi kertas, ada gambar hiasannya. Dibikin pake
spidol. Gambarnya bagus. Entah bikinan siapa. Aku suka.

Setelah aku baca surat itu, aku tak mengerti mengapa aku langsung merasa tak ingin pergi dari atas kasurku, aku benar-benar seperti orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia itu sebenarnya.

Sambil tiduran, aku jadi seperti orang yang sedang menerawang, memandang atap kamarku. Ketika ada terbayang wajahnya, langsung kupejamkan mataku, agar dengan begitu aku bisa mengusirnya,
karena aku merasa itu gak perlu dan gak penting!

Ah, sial.
Semua hal tentang dirinya hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan tugas nyuci sepatu. Langsung kusimpan surat itu di dalam laci meja belajar, sambil senyum-senyum sendirian, dan langsung pergi ke kamar mandi, menemui sepatuku.

Kucuci sepatu itu dengan pikiran yang penuh dengan dirinya, dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. Tapi susah, tetap saja kepikiran meskipun sesekali.

Aduh, siapa, sih, dia itu? Setahuku, dia satu sekolah denganku, tapi tidak sekelas denganku. Cuma itu. Itu saja. Tapi, aku tidak tahu siapa namanya. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat pertama kali jumpa itu? Haruskah aku yang nanya?

Oh, sori, ya, gak mau!

Kudengar telepon rumah berdering. Aku senang, karena itu dari Beni, pacarku di Jakarta. Dia satu sekolah denganku waktu masih di Jakarta, dan sekarang kami menjalin pacaran jarak jauh.

Beniku keren, kau harus tahu itu. Dia tampan, meskipun tidak tampan-tampan amat, tapi cukup dan kukira dia baik. Ayahnya seorang artis film terkenal yang kadang-kadang suka aku banggakan kepada ayah-ibuku dan teman-temanku.

Beni sangat menyayangiku. Aku juga begitu kepadanya. Meskipun suka bertengkar, tapi selalu bisa diselesaikan dengan baik. Sayangnya habis itu suka bertengkar lagi. Hampir setiap hari, Beni selalu meneleponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain sebagainya.

dilan

8
Hari Senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara, aku berharap tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa diam-diam mataku mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari. Mungkin cuma ingin lihat saja. Tidak lebih. Boleh, kan?

Tapi sampai upacara bendera sudah akan selesai, orang itu, Sang Peramal itu, tak berhasil kutemukan.
Di manakah dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!

Emang, siapa dia?

Seorang guru, tiba-tiba memberi komando dengan melalui pengeras suara meminta seluruh siswa untuk jangan dulu bubar dari barisan.

Kupandang ke depan karena ingin tahu soal apa gerangan,tapi justru di saat itulah aku bisa melihat dirinya.Sang Peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya.

Dia berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP (BimbinganPenyuluhan), setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.

Dia dan dua orang temannya disebut PKI oleh guru BPitu. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampaidisebut PKI hanya gara-gara tidak ikut upacara bendera. Entahlah. Apakah karena saat itu aku hidup di jaman ORBA (Orde Baru)?

Nun di sana, di tempat dia berdiri, entah gimana aku merasa yakin, dia sedang menyadari bahwa ada seseorang bernama Milea yang sedang memandangnya di tengah barisan peserta upacara.

Atau tidak?

Tapi yang pasti, sebagaimana yang lainnya, aku juga sedang memandang dia dari jauh dengan perasaan yang sulit kumengerti.
“Dia lagi!” bisik Revi seperti ngomong pada dirinya
sendiri.
Revi adalah teman sekelas, yang berdiri di sampingku.
“Siapa dia?” kutanya Revi
“Dilan.”
“Oh.”

Sejak saat itu aku jadi tahu namanya. Kata Rani, di kelas, setelah upacara bendera, Dilan itu
anak kelas 2 Fisika 1 dan anggota geng motor yang terkenal di Bandung. Jabatannya adalah Panglima Tempur.

Ya namanya Dilan!

Kalau tidak salah aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Baru tahu, ternyata dia orangnya!

Sejak semua itu aku betul-betul jadi merasa takut. Aku juga jadi langsung berpikir Dilan pasti sangat nakal dan mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus takut, toh, siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan siap menembaknya jika harus.

Tapi, tetap aja aku merasa harus menjauh darinya. Jangan biarkan dia melakukan apa pun yang akan membuatku dalam kesulitan. Aku tidak ingin membuangbuang
waktu untuk mengenal anak nakal seperti itu secara lebih jauh.

Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati. Dan tidak perlu terlalu menggubris apa pun yang ia lakukan padaku, jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan. Ini bukan aku bermaksud kasar kepadanya, tapi karena aku tahu itu harus. Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Harusnya, dia mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.

9
Bubar dari sekolah, cuaca sedang mendung, aku pulang bersama kawan-kawan. Ada Dilan menyusulku dengan motornya. Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang bersamanya naik motor. Nyatanya tidak, padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya.

“Kamu pulang naik angkot?” dia nanya.
Kujawab dengan anggukan yang sedikit agak judes. Harusnya itu cukup untuk membuat dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin diganggu, bahkan tidak ingin membuat obrolan dengannya. Pokoknya saat itu aku merasa sedang berubah di
dalam menilainya.
“Aku ikut ...,” katanya di atas motor yang lajunya sengaja dibikin pelan untuk bisa sejajar denganku.
“Ikut apa?” tanyaku tanpa menoleh. Aku hanya tidak ingin menjadi akrab dengannya.
“Naik angkot,” jawabnya.
Aku diam, gak mau meladeni omongannya.
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku ingin bilang: “Terserah,” tapi aku kuatir dengan jawaban itu nanti dia akan nyangka seolah-olah aku sudah membolehkan. Karena bingung, jadi aku memilih untuk diam.
“Boleh aku ikut denganmu?” dia nanya lagi.
“Gak usah,” kataku akhirnya sambil memandangnya
sebentar.
“Kan, angkot buat siapa aja.”
Aku diam. Bahkan aku gak tahu harus bersikap gimana ke dia.

Ah! Apa sih maunya orang ini? Lagian kalau dia ikut, emang mau ikut kemana? Kalau mau pulang, pulang aja sendiri!
“Boleh aku ikut denganmu?”
Aku masih diam.
“Boleh?” dia nanya lagi.
“Kamu, kan, naik motor?” kataku dengan nada sedikit ketus.
“Oh! Gampang. Nanti, motorku dibawa kawan,”
katanya.

Terserah deh! Aku diam dan terus berjalan dengan memandang ke depan, bersikap seolah-olah gak mau peduli kepadanya.
“Oke. Aku nyimpen motor dulu ya?” katanya sambil pergi.
“Eh?”

Ah! Sial.

Tak lama setelah itu, dia datang lagi dengan sedikit berlari. Aku tak ingin tahu disimpan di mana motornya. Itu bukan urusanku, termasuk kalau hilang.

Di angkot, dia duduk di sampingku. Itu membuat aku benar-benar jadi kikuk dan mati gaya.
“Ini hari pertama aku duduk denganmu,” bisiknya.
Tidak kurespons, karena gak penting.

Kuambil buku, lalu kubaca. Mudah-mudahan bisa membantu mengalihkan pikiranku kepadanya. Mudah-mudahan bisa membantu membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang sedang baca buku. Tapi dia berbisik, suaranya kudengar pelan sekali menyebut namaku:
“Milea.”
Aku diam. Tidak kutanggapi.
“Kamu cantik,” katanya sesaat kemudian, dengan suara yang pelan tanpa memandangku.

Heh?

Serius, aku kaget. Hampir-hampir tak percaya diaakan bicara begitu.

Aku bingung harus gimana dan berusaha memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot, tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku merasa seperti malu.
“Makasih,” akhirnya kujawab juga sambil tetap baca buku, dengan intonasi yang datar, tanpa memandang dirinya.

Dengan suara yang pelan bagai berbisik, kudengar dia bicara lagi:
“Tapi, aku belum mencintaimu,” katanya.
Aku diam.
“Enggak tahu kalau sore,” katanya lagi kemudian.

Ih! Suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir.

Aku diam, tidak mau merespons omongannya. Dia ngomong lagi: “Tunggu aja.”
Aku masih diam tapi sebetulnya ingin teriak tepat di kupingnya:
“Apa, sih, kamu ini?!” Tapi tidak kulakukan. Aku hanya berusaha untuk bersikap tidak akrab.
Dia bicara lagi setelah diam beberapa saat sebelumnya.
“Aku ramal,” katanya. “Kamu akan segera tahu namaku.”
Mendengar dia ngomong gitu, demi Tuhan, aku ingin langsung bilang ke dia: “Udah tahuuu! Gak usah ramal-ramalan, deh. Udah, deh! Udah tahu! Kamu Dilan, kan? Panglima Tempur geng motor, kan? Geng motor yang suka bikin onar itu, kan? Anak jalanan yang suka nulis namanya pake pilox di tembok rumah orang itu, kan? Kamu Dilan, kan? Udah tahuuu! Udah deh! Mendingan kamu turun.”
Tapi, kata-kata yang keluar malah: “Iya.”

Ketika sudah sampai di pertigaan Jalan Gajah, aku turun dari angkot, dan langsung kaget, karena dia juga ikut turun. Saat itu aku nyaris khawatir bahwa dia akan ikut ke rumahku. Jika benar, aku akan sebisa mungkin berusaha melarangnya. Pokoknya jangan sampai terjadi!

Syukurnya tidak. Dilan pamit pergi, naik angkot lagi, menuju arah sekolah. Aku ramal, dia pasti mau mengambil motornya.

Tadi, sebelum naik angkot, dia sempat bilang:
“Kamu tau, semua siswa itu sombong?”

Aku merasa dia sedang menyindir sikapku kepadanya hari itu. Karena malas menjawab, kupilih diam. Dia berdiri di sampingku yang berdiri di atas trotoar. Aku se-ngaja gak mau langsung pulang, karena khawatir nanti dia akan ikut.

Mengetahui aku diam, dia ngomong lagi:
“Siapa yang mau datang ke ruang BP nemui Suripto?”
Asalnya aku diam, tapi akhirnya kutanya: “Siapa?”
Entah gimana aku seperti gak bisa nahan bicara.
Dia senyum: “Cuma aku.”
“Ooh!” kataku dengan bersikap dingin kepadanya.
“Maaf kalau aku mengganggumu,” katanya kemudian dengan suara pelan.
“Iya,” kujawab. “Tuh angkotnya,” kataku menunjuk angkot yang akan lewat. Aku tahu harusnya gak usah ngomong gitu, karena akan berkesan seolah-olah aku sedang mengusirnya, tapi justeru itu maksudku.
“Aku cuma nganter, takut ada yang mengganggumu,” katanya sambil senyum dan melambaikan tangannya meminta angkot berhenti.

Ketika dia pergi, aneh, kemudian ada muncul perasaan bersalah karena sudah bersikap judes kepadanya. Pastilah dia sedih. Pastilah dia kesal. Aku juga pasti akan merasakan hal yang sama kalau diperlakukan orang seperti aku kepadanya.

10
Sesampainya di rumah, Si Bibi memberi aku surat. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu.

Itu surat dari Beni!

Kubaca suratnya, sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku.Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren kau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan kepadamu?

Maaf.

Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi soal cinta dan rindu itu.
Kata-kata indah yang dijiplak dari buku Kahlil Gibran dan puisi-puisi yang dia ambil dari majalah remaja tanpa ia cantumkan sumbernya agar aku menyangka itu adalah karyanya. Dia pikir, aku tidak pernah membaca puisi dan kata-kata itu sebelumnya.

Ah, Beni kurang asyik! Maksudku, mungkin aku merasa bosan dengan Beni yang itu-itu melulu. Monoton dan juga biasa!

Si Bibi ngetuk pintu, manggil-manggil, menyuruh aku untuk makan. Aku keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh pikiran tentang omongan Dilan di angkot itu:

“Milea, kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu.Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Kata-kata aneh yang terus nempel di kepalaku bahkan sampai malam harinya. Kata-kata itu, ketika kuingat lagi berhasil membuat aku ketawa sendirian di kamar, dan teriak dalam hati, seolah-olah aku tujukan ke Dilan:

“Mau cinta, mau enggak. Dengar, ya, hai, kamu yang namanya Dilan. Terseraaahhh! Itu urusanmu! Emang gua pikiriiin!?”
Tapi aku senyum habis itu.

Setelah usai shalat Isya, aku dapat telepon dari Beni. Dia bicara lama sekali. Atau sebentar ya? Tapi, aku merasa itu lama sekali.Dan kata Beni, dia mau ke Bandung, nanti, minggu depan. “Lu senang?” Beni nanya apakah aku senang jika dia ke Bandung menemuiku?
Kujawab: “Iya.”

Memang, harusnya aku senang, Beni.

Oke, kalau begitu. Baiklah, aku akan berusaha untuk senang. Insya Allah.
Doain.

11
Itu hari Selasa, aku dapat surat dari Dilan. Entah bagaimana dia bisa nitip suratnya ke Rani. Isi suratnya pendek:

“Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu – Dilan!”

Aku langsung terkesiap membacanya. Lalu dengan cepat, kututup surat itu. Aku jadi malu sendiri rasanya, dan aku berharap Rani tidak sudah membacanya, tapi kayaknya belum

warung bi eem

12
Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Nandan, Dito, Jenar, dan Rani.

Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak penting. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
“Semua siswa makan di sini, ya?” tanyaku ke Rani.

Sebetulnya itu adalah caraku untuk ingin tahu mengapa aku tidak pernah lihat Dilan ada di kantin? Kata Rani beberapa siswa tertentu lebih memilih nongkrong di warung Bi Eem.
“Oh,” kataku.
Langsung kutebak Dilan pasti di sana.
“Biar pada bisa merokok,” kata Nandan.
“Iya,” kata Rani.
“Kan, dijadiin basecamp geng motor juga,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku dengan diriku yang makin yakin bahwa Dilan selalu nongkrong di sana setiap waktu istirahat.
“Iya,” jawab Nandan.
“Pada gak berani datang ke situ,” kata Jenar.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, males aja kali gabung sama mereka,” jawab Jenar.
“Emangnya pada galak?” tanyaku.
“Enggak, sih,” jawab Rani. “Ya, anak-anak nakal gitu, lah.”
“Katanya suka pada minum-minum di situ ...,” kata Nandan.
“Iya?” tanyaku, sedikit agak kaget mendengar informasi dari Nandan.
“Di sana?” Rani juga nanya.
“Katanya ...,” jawab Nandan.
“Anak SMA lain juga suka pada nongkrong di situ,” kata Dito.
“Iya, kan, markasnya ...,” Nandan menimpali.

13
Sebelum kuteruskan ceritanya, aku ingin menjelaskan sedikit tentang warung Bi Eem, biar kamu jadi punya gambaran setiap kali aku menceritakan tempat itu.

Sebetulnya yang disebut warung Bi Eem itu, adalah berupa rumah zaman baheula, yaitu rumah antik peninggalan orang yang lumayan kaya di zaman dulu.

Rumah itu tidak keurus karena suami Bi Eem, sebagai keturunannya, secara ekonomi tidak senasib dengan leluhurnya, bahkan suami Bi Eem berstatus pengangguran.

Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Dicat warna hijau toska tapi sudah pudar karena sudah tidak pernah dicat ulang.

Kamar yang paling depan, oleh Bi Eem disulap jadi warung, menghadap ke arah ruang tamu yang ada di sampingnya. Ruang tamu itu dindingnya cuma setengah, tempat duduk orang-orang yang jajan di warung Bi Eem.

Posisi rumahnya berada di tikungan jalan itu, kalau gak salah bernomor 32. Di sampingnya berdiri sebuah gereja.

Untuk bisa ke warung Bi Eem, kamu harus mau jalan sejauh kira-kira 100 meter dari sekolah.

Di depan dan di samping rumah Bi Eem terdapat halaman. Di halaman depan ada tumbuh dua pohon jambu air. Halaman itu juga sering dijadikan tempat parkir motor oleh beberapa siswa tertentu. Luas halaman yang ada di depannya kurang lebih berukuran 2 kali 8 meter, sedangkan luas halaman yang ada di sampingnya kira-kira berukuran 1 kali 20 meter. Pagarnya berupa tembok yang sering dijadikan tempat duduk oleh siswa yang pada nongkrong di sana.

Tahun 2001, waktu aku ke Bandung, aku merasa sedih ketika tahu rumah Bi Eem sudah gak ada. Sekarang
telah berdiri di sana sebuah gedung mewah sebagai gantinya.

Itulah gambaranku tentang warung Bi Eem.

14
Oke, kembali ke cerita, di mana aku sedang ngobrol bersama Nandan, Dito, Jenar, dan Rani di kantin. Tak lama dari itu, aku terkejut karena melihat Dilan datang ke kantin. Dia datang bersama Piyan dan satu orang lagi yang aku sudah lupa namanya (kalau gak salah Si Akew).

Aku tahu harusnya aku bersikap biasa saja, tapi entah gimana, saat itu secara reflex aku menjadi salah tingkah.

Dia datangi meja kami dan menyapaku:
“Hei, Milea!”
“Hei,” kujawab langsung dengan suara grogi.
“Cuma nyapa,” katanya.
“Iya,” jawabku dengan senyum dan sedikit agak kaku.
Kamu harus tahu deh, mengapa saat itu aku bersikap jadi sedikit baik kepadanya. Bagiku, itu seperti aku sedang menebus dosa oleh sikap judesku kepadanya waktu dia ikut naik angkot bersamaku.
“Eh, Yan,” tiba-tiba Rani nanya ke Piyan. “Wati gak sekolah, ya?”
“Sakit katanya,” jawab Piyan. “Kenapa?”
“Ada bukunya ketinggalan.”
“Oh, ya, udah,” jawab Piyan. “Pulangnya nanti kuam46
bil.”
“Oke.”
Setelah cuma makan bala-bala (semacam bakwan), Dilan pergi bersama kedua temannya, entah ke mana, mungkin ke kelas, tapi sebelum dia pergi, dia sempat bicara ke Nandan:
“Kamu tau gak?”
“Tau apa?” Nandan balik nanya.
“Aku suka Milea.”
Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku.Rani, Dito, dan Jenar pada ketawa. Mukaku pasti merah dengan senyuman rasa bingung.
“Tapi, malu mau bilang,” kata Dilan.
“Itu, sudah bilang?” kata Nandan.
Nandan ketawa kecil, tapi ada rasa kesalnya
“Aku, kan, bilang ke kamu, bukan ke dia.”
“Dia denger, kan?” tanya Nandan.
“Mudah-mudahan.”

Bisa kubaca mata Nandan, kayaknya dia merasa keganggu oleh kata-kata Dilan. Aku tebak, sih, gitu. Cuma nebak. Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh. Hanya aku yakin, Nandan pasti langsung gak suka ke Dilan dari semenjak saat itu, dari semenjak Nandan tahu bahwa Dilan menyukaiku. Karena, kata Rani, Nandan itu naksir aku, tapi aku cuma senyum saja mendengarnya, karena mengenai soal itu, aku sudah bisa menduganya sendiri.

Aku bisa tahu dari sikap dan perilaku Nandan kepadaku, termasuk suka nelepon malam hari untuk nanya-nanya soal PR, juga suka nraktir kami makan di kantin.

Dia juga selalu berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam bahan lawakan yang sudah sering kudengar dari orang lain, bagiku, itu tak lain dan tak bukan, adalah modus untuk mengambil hatiku.

nandan

Tapi Nandan berbeda dengan Dilan, Nandan tidak bisa bebas seenaknya bicara terus terang seperti Dilan.

Aku setuju, kalau ada yang bilang Nandan orangnya baik. Dan, kalau aku boleh jujur, Nandan lebih tampan dari Dilan. Nandan juga jago basket, dan lain-lain. Pokoknya Nandan adalah lelaki idaman tiap wanita pada masanya. (Lima tahun kemudian, aku melihat fotonya nampang di sampul majalah Gadis)

Nandan juga masih jomblo, masih belum punya pacar. Pernah, sih, dekat dengan Pila, anak kelas 2 Sosial, tapi gak tahu kenapa, belakangan hubungan mereka jadi renggang. Tapi jangan nyalahin aku.

15
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya.

Kamu tahu ke mana Dilan?

Dia masuk ke kelasku, dan duduk di bangku sebelahku, membuat Rani jadi pindah ke kursi belakang yang memang kosong.

Kok, Rani mau, ya? Heran.

Aku juga heran, kenapa tidak seorang pun yang berani ngusir Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid, cuma bisa diam saja.

Sejujurnya, aku sendiri merasa risih dengan kehadiran Dilan. Tapi, mau gimana lagi? Masa, harus kuusir. Gak enak.

Dia minta kertas, lalu kukasih. Di kertas itu, dia nulis:

Informasi:
Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu:
1. Nandan (Kelas 2 Biologi)
2. Pak Aslan (Guru Olahraga)
3. Tobri (Kelas 3 Sosial)
4. Acil (Kelas 2 Fisika)
5. Dilan (Manusia)


Aku senyum membacanya. Kemudian, kulihat dia mencoret semua nama di daftar itu, kecuali nama dirinya.
“Kenapa?” kutanya, maksudnya kenapa semua dicoret kecuali nama dirinya?
“Semuanya akan gagal,” dia bilang begitu dengan berbisik.
“Kecuali kamu?” tanyaku.
“Iya,” kata Dilan sambil senyum. “Doain.”
“Iya”, kataku pelan sekali. Ah! Jantungku berdenyut.

Waktu itu, kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri, seolah-olah tidak merasa terganggu oleh hadirnya Dilan, meskipun aku yakin mereka pasti gak suka.

Kulihat Nandan, duduk terus di bangkunya, seperti orang bingung yang gak suka ke Dilan, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Pak Atam, guru pelajaran Bahasa Indonesia, sudah datang masuk kelas, tapi Dilan tidak pergi. Tetap saja dia duduk.

Edan ini orang, pikirku! Dia benar-benar ikut pelajaran Pak Atam.

Sambil berbisik, aku ngomong ke dia:
“Nanti, kamu dialpain di kelasmu.”
“Gak apa-apa,” jawabnya seraya tetap memandang ke depan, menyimak pelajaran, sampai akhirnya Pak Atam tahu ada seorang penyelundup:
“Kenapa di sini?” tanya Pak Atam.
Semua kawan-kawan sekelas memandang ke arah Dilan. Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu dan menegurnya.
“Salah masuk,” jawab Dilan.
Dilan beranjak dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak respek kepadanya.

16
Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul untuk jalan di sampingku dan bilang:
“Aku harusnya ngajak kamu pulang naik motor.”
Kujawab, “Gak usah.”
“Tapi gak jadi,” kata Dilan. “Karena aku tahu kamu akan bilang gak usah.”

Mendengar itu aku senyum, kupandang dia sebentar dan dia juga senyum.

Kalau harus jujur, sebetulnya aku bisa aja nerima ajakan Dilan untuk pulang naik motor berdua dengannya, tapi aku merasa belum waktunya. Benar-benar itu lebih karena aku tidak ingin dilihat terlalu dekat dengan dia dan aku tidak tahu mengapa. Soal bahwa Dilan adalah anggota geng motor yang harus aku waspadai, kukira Dilan tidak seperti yang aku duga. Dia malah selalu bisa membuat aku tersenyum. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan saat itu.
“Aku mau datang ke rumahmu,” katanya tiba-tiba. “Malam ini.”
Hah? Aku kaget.
“Jangan!”
“Kenapa?” dia nanya.
“Ayahku galak.”
“Menggigit?”
“Serius, jangan!”
“Aku tidak takut ayahmu.”
“Jangan!” kataku. “Pokoknya jangan.”
“Aku mau datang,” katanya sambil berlalu.
“Jangan, ih!”

Tanpa aku sadar, aku bicara dengan sedikit agak teriak. Aku jadi merasa malu. Kupandangi banyak arah, berharap tak ada orang yang akan denger.

17
Malamnya, beneran Dilan datang.

Itu, kira-kira pada pukul tujuh malam. Awalnya kudengar suara motor, masuk ke halaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung bisa yakin, tidak salah lagi, itu pasti Dilan. Aku Kenal suara motornya.

Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku dan bersama perasaanku yang langsung tak
karuan. Biasanya ayahku jarang ada di rumah, tapi sudah hampir tiga hari ini dia cuti.

Malam itu, ayahku sedang ada di ruang tengah, sibuk membetulkan radio CB-nya. Ibuku juga di sana,
sedang mencatat urusan kegiatan anggota Persit Kartika Chandra Kirana (PERSIT adalah akronim dari Persatuan Istri Tentara).

Kutebak jika bel rumah berbunyi, maka salah satu di antara merekalah yang akan membuka pintu, menyambut Dilan (kalau benar tamu itu adalah Dilan).

Ya, Tuhan, bisikku dalam hati. Kututupi kepalaku dengan bantal sambil tiduran di kasur. Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog di sana, bicara dengan Dilan, tapi tidak bisa kudengar. Aku ingin tahu, tapi aku merasa akan lebih baik jika tetap diam di kamar.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara motor yang pergi dari halaman rumahku. Ya, jika benar itu Dilan, maka dia sudah pergi.

Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajarku, meneruskan makan malamku sampai habis, sambil terus kepikiran soal Dilan yang datang. Lepas itu, aku keluar dari kamar untuk menyimpan piring makanku.
“Tadi ada tamu,” kata ibu yang berpapasan denganku.
“Oh? Siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Nanyain kamu,”
“Siapa?” kutanya.
“Katanya utusan kantin sekolah,” jawab ibu sambil memasukkan buku ke dalam laci di meja tengah.
“Utusan, apa, sih? Kayak nabi aja,” kudengar ibu seperti menggerutu.

Hah? Utusan Kantin? Aku nyaris ketawa. Aku makin yakin itu pasti Dilan.
“Ngapain?” tanyaku.
“Apa itu?” ibu bagai mikir. “Nawarin menu baru.”
“Menu baru kantin?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha.”
Kali ini, aku tidak bisa nahan ketawa.
“Malem-malem nawarin menu. Aneh-aneh aja,” kata ibu.
“Ha ha ha. Terus, Ibu bilang apa?” tanyaku.
“Tau, tuh! Ayah yang ngobrol.”
Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar, telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya. Tidak usah ditanya bagaimana dia tahu nomor telepon
rumahku. Kukira dia banyak akal.
“Hallo?” kusapa yang nelepon.
“Selamat malam.”
“Malam.”
“Bisa bicara dengan Milea?”
“Iya, saya.”
“Aku Dilan.”
“Hey.”
Mendadak jantungku langsung deg-degan.
“Milea, bisa bicara dengan aku?”
“Iya.”
“Tadi, aku datang.”
“Iya.”
Aku langsung senyum, mengingat apa yang dikatakan oleh ibu bahwa dia mengaku utusan kantin sekolah yang nawarin menu baru, tapi tidak kubahas soal itu ke Dilan.
“Kau tau aku datang?” tanya dia.
“Tau.”
“Kau tau kenapa aku datang?”
“Kenapa?”
“Kalau aku gak datang karena takut ayahmu, aku pecundang.”
Aku senyum
“Jadi, aku datang,” katanya. “Kalau dimarah, bagus.”
“Kok bagus?”
“Kalau dimarah, nanti kamu jadi kasihan ke aku.”
Dilan ketawa. Aku hanya senyum.
“Kasihan gak?”
“Tadi dimarah?” kutanya dia.
“Enggak.”
“Syukurlah.”
“Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur.”
“Oh.”
“Kenapa sekarang bisa ngomong?” tanya Dilan. “Kamu ngigau?”
“Iya.”
“Ha ha ha ha ha.”
Waktu dia ketawa, sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Jual mahal sikit, laah!
Selain itu, aku juga khawatir ayah dan ibu mendengar obrolanku, jadi kuusahakan bicara yang singkat-singkat saja dengannya. Ingat, waktu itu aku masih anak SMA yang masih merasa gak enak kalau mereka tahu itu telepon dari laki-laki, meskipun belum tentu juga mereka akan negur.
“Di mana?” Di luar kesadaranku, tiba-tiba aku bertanya.
“Siapa?” dia nanya.
“Kamu.”
“Kamu?”
“Dilan,” jawabku.
Akhirnya, kusebut juga namanya. Ah, itu adalah hari pertama aku menyebut namanya secara langsung kepadanya. Dia harusnya kaget kenapa aku tahu namanya, atau dia gembira karena ramalannya terbukti benar bahwa aku akan tahu namanya. Tapi, dia tidak membahas soal itu.
“Aku?” tanya Dilan bagai kepada dirinya sendiri. “Aku di Mars.”
“Ketawa jangan?” tanyaku, karena aku menyangka dia sedang melawak.
“Aku di Jalan Mars, Margahayu Raya.”
“Oh, he he he.”
Di Bandung memang ada Perumahan Margahayu Raya, nama-nama jalannya diambil dari nama-nama planet.

Setelah usai nelepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayah nanya: “Telepon dari siapa?
Kujawab: “Dari Beni.”

Dan di kamarku, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku aku pakai untuk mikirin dialog ku dengan Dilan di telepon:
“Boleh aku ramal?” dia nanya.
“Iya.”
“Iya, apa?”
“Boleh,” jawabku.
“Aku ramal,” katanya. “Nanti, kamu akan jadi pacarku!”

Gila!

Kayaknya bagi dia itu mudah saja mau ngomong apa pun. Seolah hal itu bukan sesuatu yang berat untuk ia katakan.
“He he he.”
“Percaya gak?” tanya dia.
Maksud dia, dia nanya aku percaya gak dengan ramalannya itu?
“Musyrik,” kujawab.
“Ha ha ha,” Dilan ketawa.
Aku juga ketawa tapi kutahan.

Entah gimana, lambat laun, aku mulai merasa senang kalau sudah ngobrol dengan Dilan malahan suka berharap bisa lama. Tiap bicara dengannya, berasa mendapat sesuatu yang tidak bisa kudapatkan dari ketika ngobrol dengan yang lain. Dan kalau aku harus jujur, aku juga merasa mulai suka kepadanya.
“Hey, Milea.”
“Iya.”
“Tau gak kenapa aku gak langsung jujur ke kamu?”
“Jujur apa?”
“Jujur bilang ke kamu, aku mencintaimu?”
“He he he.”
Mukaku pasti merah.
“Kan, sudah lewat surat?” kataku senyum.
“Maksudku ngomong langsung ke kamu”
“Terus? Kenapa gak langsung?”
“Kalau mau, ya aku bisa,” katanya. “Gampang.”
“Iya. Kenapa enggak?”
“Kalau langsung, gak seru,” katanya. “Jadi biasa.”
Aku ketawa. Dilan juga.
Ah, dia pasti selalu bisa membuat aku ketawa, ya, minimal tersenyum.
“Nanti kalau kamu mau tidur,” katanya. “Percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu gak akan denger.”
Aku ketawa kecil

Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan.

Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebagaimana dia begitu mudahnya berterus terang, bahwa aku sudah punya pacar? Haruskah terus terang, aku bilang ke Dilan, sebelum dia tahu sendiri, dan lalu kecewa, bahwa aku sudah punya pacar?

Iya, kayaknya harus bilang. Aku harus bilang ke Dilan bahwa aku sudah punya pacar, biar sejak itu Dilan akan berhenti mengejarku dan langsung membuat aku sedih, karena tidak akan ngobrol lagi dengannya di telepon. Tidak akan lagi dideketin orang aneh macam dia, yang kalau aku harus jujur, sebetulnya aku juga suka. Dia itu seru!

Ah tidak! Aku gak mau bilang. Biarin aja.

Atau haruskah aku bilang ke Beni, bahwa ada orang, di Bandung, satu sekolah denganku, namanya Dilan, sedang berusaha mendekatiku?

Kayaknya jangan, deh. Aku tahu Beni, jika kukatakan, justru malah akan nambah masalah daripada berusaha menyelesaikannya. Dia itu sumbunya pendek, gampang meledak.

Ah, kepada siapa aku harus membahas soal ini. Ke Beni? Itu namanya bunuh diri!

Lebih baik aku tidur.

Di luar turun hujan. Kepalaku dipenuhi kata-kata:
“Kamu di mana sekarang, Dilan?”
...
“Oh, iya lupa, tadi kamu sudah bilang: di Mars. He
he he.”
...
“Hati-hati di jalan, Dilan.”

Kututup mataku dengan bantal dan lalu kuingat lagi kata-katanya:
“Nanti kalau kamu mau tidur percayalah
aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh, kamu
gak akan denger.”

Itu membuat aku langsung menggumam:
“Selamat tidur juga, Dilan.”

Habis itu, aku senyum bagai malu pada diriku sendiri.

18
Aku baru selesai dari kantin bersama Nandan, Hadi, dan Rani. Gak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung Bi Eem? Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Bicara denganku. Setidaknya dengan itu, aku
bisa tahu langsung darinya, benarkah dia suka ngeganja seperti yang dikatakan oleh Nandan dan Dito? Benarkah dia suka minum minuman keras, seperti yang dikatakan oleh Nandan, Jenar, dan Rani? Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang dikatakan oleh Nandan?

Jika aku ingin tahu tentang Dilan sebenarnya, aku tidak bermaksud mau ikut campur urusan Dilan. Siapalah aku ini. Dilan bukan pacarku, apa urusanku memikirkan diri dan kehidupannya, tapi aku tidak tahu mengapa ingin selalu mengetahui dirinya dengan lebih jauh lagi. Apalagi aku selalu mendapat informasi yang buruk tentang Dilan. Sebenarnya, aku tidak ingin langsung percaya
tentang semuanya itu dengan gampang.

Aku betul-betul ingin nanya langsung ke orangnya, dan jika rumor itu benar, ya, sudah, aku jadi tahu siapa dirinya. Habis itu bagaimana aku harus bersikap ke dia, ya, itu adalah hakku.

Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!

Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi gini?

19
Dari kantin, sebelum mau masuk ke kelas, aku berpapasan dengan Dilan dan kawan-kawan. Pasti baru datang dari warung bi Eem.
“Milea!”, dia manggil dan mendekat
“Ya?”
“Boleh ga aku ikut pelajaran di kelasmu lagi”,
“Kamu mau bikin aku senang?”. Kupandang matanya, hampir-hampir gak percaya bahwa aku bisa nanya seperti itu kepadanya.
“Iya?”
“Ikuti mauku”
“Apa itu, Milea?”
“Jangan!”
“Oh. Oke, kalau begitu”

Dia pergi. Aku masuk kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Itu adalah pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, nama gurunya Ibu Sri, aku masih ingat.

Bukan ibu Srinya yang kuingat, tapi kejadiannnya, yaitu selagi Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, papan pembatas kelas itu tiba-tiba roboh, jatuh ke arah kami.

Ibu Sri lari sambil teriak: “Allahuakbar!!”. Semua orang juga lari, berusaha menghindar ke arah bangku di bagian paling belakang.

Dari sana, bisa kami saksikan sendiri, bagaimana papan pembatas kelas itu roboh bersama dua orang yang masih menggantung di atasnya, seperti sedang menggulingkan papan tulis.

Kedua orang itu adalah: Piyan dan Dilan! Sejak itu, kami bisa melihat wajah-wajah siswa di kelas 2 Fisika 1 pada melongo semua.

Bagaimana itu bisa terjadi? Aku dapat penjelasan langsung dari Dilan setelah beberapa bulan kemudian. Katanya, waktu itu, di kelas sedang tidak ada pelajaran, gurunya tidak datang karena sakit. Dia dan Piyan, berusaha naik ke atas pembatas kelas, untuk mencapai lubang pentilasi yang ada di tembok bagian atas.
“Ih! Ngapaiiiin?”, kutanya
“Ngintip kamu ha ha ha ha”
“Ha ha ha ha”
“Resiko tinggi mencintaimu”
“Ha ha ha”

Tapi itulah yang terjadi. Mau gimana lagi. Wati, teman sekelasku, mungkin jengkel. Dia hampiri Dilan, dan melemparkan buku pelajaran ke arahnya, sambil ngomong:
“Maneh wae, Siah!”. Itu bahasa sunda, kira-kira artinya: “Elu lagi! Elu lagi!”

Dilan tak melawan. Aku langsung ingin tahu, siapa Wati sebenarnya? Kenapa dia berani kepad Dilan? Dan Dilan diam saja. Selidik punya selidik, ternyata ibunya Wati adalah adik dari Ayahya Dilan. Ya, Tuhan, kenapa aku baru tahu?

Dilan dan Piyan, dibawa ke ruang guru! Anehnya aku tidak cemas. Anehnya aku percaya, Dilan pasti bisa menghadapinya dengan tenang.

Tapi sejak peristiwa itu, selama dua hari, aku tidak lihat Dilan di sekolah dan juga di mana pun. Mungkin dia sakit. Mungkin dia diskors. Aku tidak tahu. Aku ingin tahu. Tapi bingung bagaimana caranya? Nanya ke Nandan atau Rani, kuatir akan nyangka yang bukan-bukan. Nyangka aku perhatian atau apalah, meskipun iya begitu, tapi mereka jangan tahu.

20
Keinginanku bisa ke kantin berdua dengan Wati, akhirnya kesampaian. Di kantin, ada Nandan, Rani dan Jenar ingin gabung, makan satu meja dengan kami, tapi kubilang aku ada urusan dengan Wati. Untung mereka ngerti.

Pasti kamu tahu, tujuanku ngobrol dengan Wati. Meskipun malu, harus kuakui, bahwa dari Wati, aku ingin dapat informasi lebih banyak tentang Dilan. Maksudku, ini menyangkut tentang banyak informasi buruk yang kudapat tentang Dilan. Aku ingin tahu semuanya, apakah semuanya itu benar?

Bukan mau ikut campur. Aku mengerti, hidup Dilan urusannya. Bagaimana pun dirinya, apalah urusanku dengan itu. Aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan pacarnya. Tapi, pengetahuanku tentang Dilan, bagiku, bisa sangat membantu untuk bagaimana harusnya aku bersikap kepadanya.

Atau, entahlah, aku sendiri tidak mengerti, apa sesungguhnya yang membuat aku jadi begitu. Jadi seperti detektif yang ngorek-ngorek informasi orang lain. Tapi, cobalah kamu jadi aku, aku yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama.

Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat jendela. Aku harus hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuanku. Setelah ngobrol tentang hal lain yang gak penting, aku mulai berusaha mengarahkan pembicaraan supaya membahas pada pokok yang kumaui:

“Eh, ngomong-ngomong, kemarin, waktu si Dilan jatuh, kamu lempar dia pake buku, kok kamu berani sih?”
“Oh? Ha ha ha. Berani lah! Habisnya kesel. Dia itu nakal tahu? Di rumahnya juga begitu!”
“Kamu saudaraan ya?”
“Iya, ibuku kan adik ayahnya”
“Oh, pantes! Enggak. Kaget aja, pas lihat kamu berani mukul dia ha ha ha”
“Habisnya kesel. Nakal dia itu”
“Nakal gimana?”
“Ah, banyak! Pernah tuh, waktu malam minggu, kapan ya, pokoknya dia motong ayam ibuku, diambil di kandang gak bilang-bilang”
“Oh ya?”
“Disate tahu gak?! Dimakan sama temen-temennya di belakang rumah dia!”
“Ha ha ha. Mabuka-mabukan ya?”
“Enggaklah!”
“Tahunya enggak?”
“Tahu aja”
“Ngambil ayam ibu kamu? Kok berani?”
“Pas ditegur ibuku, dia bilangnya salah ngambil, gelap, gak kelihatan”
“Ha ha ha”
“Padahal, kamu tahu gak? Ayahnya itu galak. Tentara”
“Oh ya?!”
“Iya”
“Kecabangan apa?”
“Gak tahu tuh. Gak ngerti”
“Si Dilan pasti pacarnya banyak tuh!”
“Ah, siapa? Kayaknya ga punya pacar dia mah? Terlalu cuek ke cewek!”
“Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya”
“Iya kali”
“Emang belum punya pacar?”
“Enggak tahu tuh. Eh, kok jadi ngomongin si Dilan sih?!”
“Iya ha ha ha. Wat, aku pengen main dong ke rumahmu?”
“Boleh aja. Kapan?”
“Nanti deh, aku bilang dulu ke nyokap”
“Hayu”

Yes! Yes! Yes! Aku mauu, Wati. Nanti kita ngobrol yaaaaa!!!

21
Dilan kulihat sekolah lagi. Tapi sejak itu, selama tiga hari, tidak ada gerakan apa-apa dari Dilan yang bersangkut paut dengan diriku. Bahkan sampai sehari menjelang ulangtahunku, Dilan kayaknya bersikap biasa saja.

Aku sempat berfikir, jangan-jangan Dilan malu oleh kejadian robohnya papan pembatas kelas. Atau, mungkin dia sudah tidak mau lagi denganku. Atau apa? Aku gak tahu! Aku gak tahu! Termasuk aku gak tahu kenapa hal itu membuat aku jadi sedih!

Meskipun tidak kurayakan ulangtahunku, tapi banyak kawan-kawan yang pada ngasih kado, termasuk Nandan. Dia ngasih boneka panda yang cukup besar. Boneka itu dibungkus dalam plastik, dengan ujungnya yang diikat pita merah. Nandan ngasih kado itu di kelas, pada waktu istirahat:
“Selamat ulangtahun, Milea. Panjang umur ya. Kadonya boneka, biar apa coba?”
“Biar apa?” Aku senyum.
“Biar kalau tidur, kamu bisa memeluknya”.
“Ih”, aku senyum lagi

Mungkin dia bercanda, atau mungkin juga serius, tapi yang pasti, mendengar Nandan bilang begitu, kawan-kawanku yang saat itu ada di kelas, pada teriak:
“Asik euy!!!”.
“Suit-suit!!”

Apa siiih. Biasa aja! Cuma kado Panda, kalau ada uangnya, semua orang bisa beli. Meluk boneka, mau bentuknya panda mau monyet, bagaimana bisa kurasakan seolah aku sama sedang memeluk orang yang memberinya? Mungkin ada yang bisa begitu, tapi aku tidak, kecuali boneka itu bikinan sendiri.

Dan Beni, sengaja datang ke Bandung, demi untuk merayakan ulangtahunku. Dia ke rumah pada pukul dua belas malam, bersama empat orang temannya, Adhit, Bram, Lilo dan Ical. Beni memberiku seikat rangkaian bunga yang indah. Warna warni dan harum baunya.

Itu bunga kasih sayang katanya, sambil mengecup keningku. Dia juga membawa kue ulang tahun, yang kami nikmati di ruang tamu, setelah sebelumnya ada perang colek-colekan krim kue yang seru. Beni pulang ke Jakarta, satu jam kemudian.

Dilan? Pada harinya, dia tidak memberiku ucapan ulangtahun. Aku sempat curiga, jangan-jangan Dilan gak tahu ulang tahunku. Mana? Katanya kamu akan segera tahu hari ulangtahunku?

Kamu tahu tidak, Dilan? Aku sempet yakin, kamu akan menelponku tepat pada pukul 00:00, menjadi orang awal yang mengucapkan selamat ulangtahun untukku. Nyatanya tidak. Aku bingung, apakah aku harus kecewa atau tidak?

Jika aku kecewa, emang siapa diriku bagimu? Kalau tidak kecewa, tapi aku menunggu ucapanmu, Dilan. Aku tidur dalam gelombang perasaan yang kosong.

22
Hari itu, aku sedang belajar Biologi, pelajaran praktek mnggambar anatomi kodok dibagi ke dalam beberapa kelompok, tiba-tiba terdengar pintu kelas ada yang ngetuk. Aku terkejut ketika tahu orang itu adalah Dilan.

Untunglah gurunya Pak Rahmat, dan Dilan juga kayaknya tahu, Pak Rahmat baik, sehingga barangkali itulah maka dia jadi berani. Atau, itu cuma kebetulan. Kukira, dia pasti akan berani meski siapa pun gurunya.
“Permisi, Pak?”
“Iya?”, jawab pak Rahmat yang sedang duduk di kursi guru.
“Maaf. Ada titipan penting buat Milea”
“Oh. Iya. Silakan”

Dilan masuk, mendatangiku, dilihatin oleh hampir semua orang yang ada di kelas. Bungkusan yang dibawanya, entah apa itu, dia berikan kepadaku sambil menjabat tanganku:
“Selamat Ulangtahun, Milea”.
“Makasih, Dilan”, aku senyum. Aku memandang matanya sebagaimana ia juga kepadaku!

Habis itu, dia pergi seraya pamit kepada Pak Rahmat. Heran, aku merasa tidak malu. Heran, aku justeru malah bangga. Terimakasih, Pak Rahmat yang baik, guruku yang tua dan pendiam. Aku tidak ingin bilang bagaimana sikap Nandan saat itu, kau tebaklah sendiri.

Jika hari itu ada yang bilang bahwa hatiku berbunga-bunga, aku langsung akan setuju. Aku senang, hari itu, ah, entah bagaimana kukatakan, pokoknya itu adalah hari pertamaku memegang tangan Dilan! Atau, hari itu adalah hari pertama Dilan memegang tanganku!

23
Jangan diganggu. Aku lagi di kamar, sendirian, membuka kado Dilan. Tak sabar rasanya ingin tahu apa isinya. Bungkus kadonya dipenuhi oleh gambar yang dibikin dengan menggunakan spidol warna-warni, entah siapa yang bikin. Mungkin dia. Mungkin nyuruh kawannya yang jago gambar.


Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan tidak sabar untuk segera membuka kado pemberian dari Dilan. Dengan rasa penasaran, pelan-pelan kusobek ujung dari pembungkus kado itu. Dan, baiklah. Langsung kuberitahu apa isinya: buku TTS!

Kalau kamu terkejut dengan isi kado itu, sama, aku juga terkejut.

Cover-nya berupa foto wanita Jepang yang sudah dia kasih kumis dan jenggot di wajahnya, serta ada satu balon kata seperti yang ada di buku komik, yang dibuat dari kertas dan ditempelnya di situ.

Di dalam balon kata itu ada kalimat ucapan ulang tahun seolah-olah hal itu diucapkan oleh Si Model Jepang itu kepadaku:
“Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.”

Aku senyum.

Kubuka-buka TTS itu barangkali ada hal lain di dalamnya yang ia sisipkan sebagai inti kado yang sesungguhnya. Dan ada, yaitu selembar kertas berisi tulisan tangan yang dibikin berusaha sebagus mungkin:

SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KUIISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.

DILAN!

24
Hari-hari berikutnya, ada yang lain dari Dilan. Aku merasa Dilan berubah. Seperti menjauh. Bahkan sudah masuk kategori boleh kuanggap sombong.

Tak ada lagi hal yang ia lakukan untukku, sebagaimana selalu kudapatkan sebelumnya. Dia tidak pernah ke kantin, sehingga kalau di sekolah, hanya sesekali saja aku bisa melihatnya, dan itu pun dari jauh.

Aku tidak tahu, mengapa dia jadi gitu? Aku tidak merasa perlu bertanya kepada Wati, karena Wati pasti akan menjawab tidak tahu. Itu urusan Dilan.

Pada kesempatan bertemu Piyan, kuberanikan diriku minta waktunya Piyan untuk ngobrol denganku. Boleh, katanya.

“Tapi jangan sampai Dilan tau”
“Kenapa memang?”, Piyan senyum
“Nanti deh aku cerita”
“Sip!”

25
Akhirnya aku bisa ngobrol dengan Piyan, pada waktu istirahat, di tempat tukang photo copy yang ada di luar sekolah. Aku ceritakan semuanya, dari mulai awal aku bertemu Dilan, sampai tentang banyak hal yang sudah ia lakukan untuk “mendekati”ku. Piyan ketawa. Sama, aku juga ketawa.

“Tahu gak, Mamaku ketawa, pas aku ceritain soal dia ngasih TTS buat hadiah ulangtahunku”, kataku kepada Piyan.
“Si Gelo!”
“Ha ha ha ha. Dia pernah ngasih coklat ke aku. Tahu siapa yang nganterinnya?”
“Siapa?”
“Tukang koran ha ha ha! Yang suka datang ke rumah nganterin majalah langganan”
“Ha ha ha”
“Yang nerimanya si Bibi!!”
“Hah? Ha ha ha terus?”
“Pas dia tau tukang koran itu ngasih coklat buat aku, Si Bibi pastilah nanya dari siapa?”
“Apa kata tukang koran?”
“Dari Dilan, penjaga Milea ha ha ha!”
“Anjrit! Ha ha ha”
“Ada lagi! Ada lagi!”
“Apa?”
“Kan dia nelpon……..”
“Ya?”
“Yang nerima si Bibi”
“Terus?”
“Dia malah ngobrol, sama si Bibi…coba! Bukannya langsung bilang mau bicara sama aku”
“Skandal! Ha ha ha. Ngobrol apa?”
“Kata si Bibi sih, dia ngaku teman aku, dan tukang ramal. Ngaku bisa tahu angka berapa judi Porkas besok keluar”. (Porkas itu semacam judi yang dilegalkan oleh pemerintahan zaman Orde Baru. Konon, untuk membantu kegiatan olah raga di tanah air. Sekarang sudah tak ada)
“Ha ha ha berapa katanya?”
“Ah, paling juga dijawab ngawur. Terus, dia bilang, sampaikan ke Lia, kalau sholat harus menghadap kiblat”
“Ha ha ha ha”
“Ada lagi! Ada lagi!”
“Banyak amat!”
“Banyak, Piyaaaan!”

Terus kenapa sekarang Dilan berubah, Piyan? Kenapa dia jadi sombong, Piyan? Si Piyan bilang tidak tahu. Tapi kemudian dia cerita bahwa, Dilan sering cerita soal aku. Ah, aku senang pas dia ngomong bagian yang ini.

“Nah, soal dia berubah, apa ya? Dia pernah bilang sih: Jangan diganggu Milea. Dia sudah pacaran sama Nandan?”
“Hah? Apa?”
“Iya. Dia bilang gitu. Menurutku sih kayaknya gara-gara itu deh. Bisa jadi”
“Kok? Enggak ih!! Kok dia bisa bilang begitu?”
“Enggak tahu. Dilan bilang ke aku sama si Ajun, katanya, sudah jangan diganggu”
“Iiihh, Enggak, Piyan ih! Bilangin ke dia!”
“Bilang gimana?”
“Aku enggak pacaran sama Nandaan!!”
“Ya, udah, nanti aku bilang!”
“Harus, Piyan! Jangan lupa sampaiin. Tolong ya, Piyan!”

26
Aku tahu sekarang. Pantesan Dilan jadi gitu! Aku enggak pacaran sama Nandan, Dilan! Emang siapa sih yang bilang, sampai kamu bisa ngomong begitu? Pokoknya Piyan harus menyampaikan kepadanya bahwa aku tidak pacaran sama Nandan! Titik! Harus! Wajib!

Sejak itu, mulai besoknya, aku sudah tidak pernah ke kantin lagi bareng-bareng dengan Nandan. Setiap hari, selalu kuusahakan punya alasan untuk menolak ajakan Nandan pergi ke kantin. Sampai-sampai kalau pas istirahat aku lebih sering memilih untuk diam di kelas.

Jengkelnya kalau Nandan sudah ikut-ikutan diam di kelas, aku jadi pura-pura pergi ke toilet atau kemana lah yang penting terhindar dari gosip bahwa aku pacaran sama Nandan. Ya, Nandan pasti ngerasa aku berubah. Ya, aku juga kasihan ke dia. Tapi biarin! Asal Jangan Dilan yang berubah ke aku!

Bagaimana dengan Beni? Ya, aku pacaran dengan dia. Tapi, aku mau ke dia karena dulu belum tahu bahwa di dunia ini ada Dilan! Mengerti kaaan? Selama cuma pacaran, kukira, aku masih punya hak untuk memilih, sampai bisa kudapati orang yang pantas kunikahi! Coba jadi aku deh, biar bisa kau maklumi.

27
Hari itu adalah hari sabtu, belajar di kelas ditiadakan, karena ada acara seleksi pemilihan siswa terbaik, yang akan mewakili sekolah menjadi peserta Cerdas Cermat di TVRI. Acara itu di selenggarakan di aula sekolah.

Pesertanya diambil dari tiap kelas, sebanyak tiga orang, yaitu mereka yang tercatat sebagai siswa yang selalu mendapat rangking 1, 2 dan 3. Diambil dari kelas Sosial, Biologi dan Fisika. Di kelasku yang terpilih adalah Gatot, Enjang dan Warti. Mau tahu tidak, siapa siswa yang ditunjuk dari kelas 2 Fisika 1? Dia adalah: Dilaaaaaaaann!! Yeeeeee!!! dan dua orang lagi yang aku sudah lupa namanya. Masing-masing dicampur menjadi beberapa group.

Ketika acara itu dimulai, aku nonton sedikit agak di depan, ah kau taulah kenapa. Aku bisa puas melihat Dilan dari agak sedikit dekat, meskipun, aku GR sedikit ya, aku takut kalau Dilan tau ada aku, nanti akan membuatnya grogi. Nyatanya tidak, kulihat dia biasa saja.

Itu acara yang seru. Satu sesi menampilkan 3 group. Group A, B dan C. Ketika giliran groupnya Dilan, aku langsung degdegan! Serius! Sangat berharap groupnya Dilan akan menang dan terpilih! Tapi pas selesai babak satu, babak dua dan tiga, hasil perhitungan nilai menunjukkan groupnya Dilan dapat posisi kedua. Aku sedikit kecewa.

Aku berharap, groupnya Dilan bisa mengejar ketinggalan pada sesi pertanyaan rebutan. Itu adalah sesi di mana Sang Penanya akan memberikan pertanyaan kepada siapa saja, dan yang bisa lebih dulu memijit bel, akan mendapat kesempatan untuk menjawab. Resikonya adalah, jika jawabannya itu salah, maka akan dikurangi nilainya.

Dari jauh aku bisa lihat Dilan nampak terlihat tenang. Iya, bagus, Dilan, harus gitu! Jadikan ini hari terbaikmu! Tetap semangat. Doaku selalu menyertaimu. Begitulah aku hari itu. Repot dengan diriku sendiri. Lebih repot dari mereka yang lebih pantas untuk repot. Biariiiiiin!

Sesi pertanyaan rebutan dimulai. Sang Penanya mengajukan pertanyaan:”Siapa menteri Agama Kabinet Pembangunan V?”. Aku senang, pas tahu Dilan berhasil mijit bel lebih dulu. Yes! Dilan pasti tahu!

Tapi apa jawaban Dilan waktu itu?: “Mahatma Gandhi!”. Aku langsung kecewa! Bukan ih!! Munawir Sadjali, Dilaaaaaann!! Aku langsung curiga, dia pasti sengaja! Pasti!!!

Semua orang ketawa bahkan ada yang sampai terkekeh-kekeh. Tentu saja, karena penonton juga tahu, Mahatma Gandhi itu bukan Menteri Agama, tapi seorang Penggerak Kemerdekaan India!

Kalau aku pernah sangat jengkel ke Dilan, maka itulah harinya! Tapi, asli, ini adalah kenangan lainnya dari dia yang tidak bisa kulupakan.

Tidak cuma itu! Waktu ada pertanyaan:” Jelaskan latar belakang pergeseran kekuasaan yang membentuk undang-undang dari Presiden menjadi kewenangan DPR?”. Tahu apa jawaban Dilan? Setelah dia berhasil bisa mijit bel lebih awal? Dia menjawab dengan tenang:”Tidak tahu, Pak!”.

Semua orang ketawa. Aku tidak! Serius, aku tidak! Aku justeru jengkel ke dia. Ya, udah, Dilan, kalau memang tidak tahu, jangan dijawab ih! Jadi aja nilaimu terus dikurangi dan akhirnya group kamu kalah! Gak jadi deh masuk teve. Aku pandang dia dari jauh, tapi itu adalah pandangan yang gemas!

Tapi biar bagaimana pun, itu adalah harinya, di mana dan kapan pun, setiap aku mengingatnya, aku akan langsung tersenyum.

28
Seandainya semua anggota gengmotor seperti Dilan, atau minimal Piyan, maka tidak akan ada seperti si Anhar dan si Kusnadi. Anhar itu anak kelas 3 Sosial. Temannya Dilan, satu komplotan, sama-sama gengster, sama-sama suka kumpul di warung bi Eem.

Anhar suka petantang petenteng, seolah-olah, baginya, hanya dirinyalah yang paling jago di dunia dan akhirat. Truoblemaker dan konon diam-diam, bersama si Engkus, suka malakin anak-anak kelas satu.

Malahan ada info dari Rani, katanya, Anhar itu pernah ditahan polisi karena melakukan tindakan kriminal di jalan. Memalukan! Menjijikan! Tidak elegan! Menghancurkan citra korpsnya sendiri. Memanfaatkan nama kelompoknya hanya untuk kepentingan pribadi dan untuk merasa puas bisa menekan siapa pun yang dia anggap remeh!

Di sini, aku sedang tidak ingin membela Dilan, seolah aku sedang berusaha menyampaikan bahwa Dilan itu orang suci. Tidak sama sekali. Aku juga tahu Dilan suka berantem. Aku juga tahu bahwa Dilan pernah diskors, sebelum aku pindah ke Bandung, karena terlibat tawuran.

Kau boleh bilang bermilyar-milyar kali bahwa Dilan itu anak nakal, genster brengsek, atau yang lebih buruk dari itu. Itu hakmu. Tapi bagiku, Dilan berbeda dengan Anhar dan Engkus. Ini aku bilang dengan melepas perasaanku kepadanya, biar sedikit bisa objektif.

Sebetulnya, ingin juga kujelaskan, kepada siapa pun, di sini, bahwa jika Dilan berantem, sesungguhnya itu lebih disebabkan oleh karena ia ingin membela harga dirinya, dan kehormatannya. Tapi kayaknya percuma, sebab aku yakin kamu tidak akan percaya.

Sebelum aku datang, kata Wati, Dilan pernah berantem dengan anak kelas 3. Gara-garanya disebabkan oleh karena orang itu bilang ke Dilan, waktu Dilan melewati mereka yang sedang nongkrong, (kelak di kemudian hari, Dilan menjelaskannya kepadaku dengan detail):

“Tong mentang-mentang Anak Kolong lah! Biasa weh! Teu sieun!”. Bahasa sunda, kira-kira artinya:”Jangan mentang-mentang Anak Kolong lah! Biasa aja! Gak takut!”. (Anak Kolong adalah sebutan untuk mereka yang ayahnya tentara)
“Kenapa kamu ngomong gitu?”, Dilan menghampiri orang itu.
“Naon ieu teh?”, si orang itu balik nanya (“Apa sih ini?”)
“Kenapa kamu ngomong gitu?”.
“Ngomong naon?”. Si orang itu masih juga balik nanya (“Ngomong apa? Enggak”)
“Kenapa kamu ngomong gitu?”, Dilan masih dengan pertanyaan yang sama
“Naon, Anjing!”. (“Apa, Anjing!?”) Si orang itu akhirnya berdiri dan mulai merangsek.

Dilan kemudian menghajarnya, dan terjadilah baku hantam. Konon, diawali dengan adanya kejadian itu, Dilan pernah di rawat di rumah sakit Boromeus, katanya di ruang Yosep, kamar 1520, dan koma selama 1 hari, akibat terkena tusukan di perutnya.

Itu terjadi di daerah jalan Merdeka, sekarang Bandung Indah Plaza (BIP). Aku pernah melihat bekas jahitan di perutnya. Dicurigai sebagai balasan yang harus Dilan terima. Tapi entahlah. Kasus ini tidak pernah diusut sampai tuntas. Pelakunya tidak pernah terungkap!!!

29
Aku yakin, kepada Anhar, Dilan tidak pernah membicarakan soal dirinya menyukaiku. Karena kalau Anhar tahu, dia pasti tidak akan berani menggodaku. Sekali waktu, dia pernah nelepon ke rumahku, entah dapat nomor dari mana.

“Aku suka merhatiin kamu lho?”
“Oh ya? Kenapa?”
“Kamu cantik lah”
“Kamu temenan sama Dilan?”, aku nanya.
“Iya. Kenapa gitu?”
“Salam buat dia!”
“Pengen ya ke Dilan?”
“Menurutmu?”
“Suka ya?”
“Tanya aja dia”
“Nanti deh aku tanyain”
“Tanyalah”
“Eh Milea, boleh ga, aku pinjem jaketmu? Biar kalau kupake jadi kerasa dipeluk kamu”
“Norak tahu!”
“Tapi kamu suka kan?”
“Alhamdulilah enggak”

Obrolan yang sangat membosankan! Cowok macam apa pengen make jaket cewek! Katanya gengster, tapi obsesinya malah pengen jadi waria.

30
Siswa yang terpilih untuk mewakili sekolahku menjadi peserta cerdas cermat di TVRI adalah Gatot, Haikal dan Ayu. Tapi siswa lain juga boleh ikut untuk menjadi suporter. Syaratnya harus bayar ongkos untuk biaya menyewa bis ke Jakarta.

Aku ikut dan senang karena bisa datang ke Jakarta, setidaknya dengan itu bisa sekalian dimanfaatkan untuk aku bernostalgia. Tapi aku kecewa, karena Dilan tidak ikut!

Karena tahu Dilan gak ikut (Aku dapat info dari Piyan), malamnya kutelepon Beni. Sebetulnya, aku tidak sama sekali berharap ketemu Beni. Aku cuma takut, kalau kemudian Beni tahu bahwa aku ke Jakarta dan tidak bilang, pasti dia akan marah.

Di telepon, Beni bilang dia senang. Dia memastikan akan datang ke stasiun televisi tempat di mana kami akan melangsungkan pertarungan. Tapi pas selesai acara (Tim kami kalah), Beni belum kunjung datang juga. Sampai-sampai aku mengira, mungkin Beni ada acara, sehingga dia tidak bisa datang.

Sudah dicoba kutelepon ke rumahnya, dengan menggunakan telepon umum, tapi yang nerima ibunya, katanya dia di rumah pamannya.

Setelah usai acara, sebelum pulang ke Bandung, rencananya kami akan mampir dulu ke Monas. Jalan-jalan. Tapi sebelumnya, siswa disarankan untuk mencari makan dulu, yaitu di sekitar kawasan kantor stasiun televisi. Jangan jauh-jauh.

Nandan ngajak aku makan, awalnya aku gak mau, tapi karena Novi ikut juga, aku jadi mau. Pas lagi makan, Novi izin, bilang mau ke toilet. Dia pergi, meninggalkan aku berdua dengan Nandan. Pada saat itulah Beni datang.

Dia berdua dengan Saribin, kawan sekelasnya, kawanku juga. Dia langsung duduk di depanku, karena aku duduk bersampingan dengan Nandan.
“Tahu dari mana aku di sini?”, kutanya Beni
“Temenmu ngasih tau. Emang kenapa kalau tahu?”, Beni balik nanya
“Ga apa-apa. Nanya aja. Kirain ga akan datang”, jawabku.
“Suka kalau gue ga datang?”, Beni nanya dengan tatapan yang bisa dianggap mengerikan

Aku diam. Percumalah kujawab. Matanya sudah nyala oleh api cemburu. Dia pasti marah! Aku tahu siapa dia. Harusnya hal sepele macem ini gak usah terjadi, seandainya dia bukan orang cemburuan.

Dengan perasaan gak karuan, aku kenalkan Nandan kepadanya. Beni menyikapinya dengan mata kebencian. Dia memandang kami menggunakan wajah permusuhan. Aku jadi gak enak ke Nandan.

Beni nanya:
“Cuma berdua?”
“Banyakan. Tadi, disuruh…”, sebelum jawabanku selesai, Beni memotong:
“Disuruh apa? Disuruh berpasang-pasangan?”
“Beni! Apa sih?!”, kataku sedikit teriak karena kesal
“Terus elu, siapa, lagi?!”. Beni menunjukkan jarinya hampir deket ke wajah Nandan. Nandan kulihat dia nampaknya ketakutan. Aku langsung merasa kasihan ke dia.
“Beni!”, aku berdiri.
Beni berdiri juga seraya membentakku: “Diam kamu!”. Terus dia memandang ke Nandan sambil bicara dengan nada menantang:
“Lu pacarnya!?”
“Bukan, Mas”, Nandan menjawab gemetar
“Terus ngapain lu berdua?!”, Beni membentak Nandan. Saribin berusaha melerainya.
“Teman aja, mas. Makan”, kata Nandan

Tiba-tiba Beni nyoba nampar Nandan. Nandan mengelak, justeru malah membuat Beni makin jadi emosi. Dia merangsek dan lalu berusaha memukul Nandan. Saribin berusaha mencegahnya. Aku teriak untuk bisa menghentikannya.

Saribin berusaha kuat bisa memegang Beni yang terus memaki Nandan. Di saat bersamaan Novi datang dan langsung merasa bingung dengan apa yang terjadi:
“Pergi, lu!”, Beni membentak Nandan.
Nandan pergi bersama Novi yang masih kebingungan. Aku juga ikut pergi, sambil bilang ke Beni:
“Kita putus!”
“Dasar pelacur!” Beni memakiku.

Itu kata yang bisa kudengar dari banyak kata-kata buruk lainnya yang Beni ucapkan. Setelah selesai bayar makan, aku jalan bergegas sambil nangis dan langsung masuk ke bis yang sudah dipenuhi oleh kawan-kawanku.

Dalam hati yang kacau, aku mendengar Nandan sedang menjelaskan duduk persoalannya kepada semua orang yang ada bersamanya. Sebetulnya aku berharap dia tidak cerita. Tapi sudahlah.

Aku nangis di bis ditemani Sarah, ibu Sri, Wati dan Rani. Mereka berusaha untuk membuatku tenang. Wati di sampingku, dia nanya ada apa? Tangisanku sedikit menjadi ketika memeluknya. Memeluk Wati, bagiku, saat itu, rasanya seperti sedang memeluk Dilan. Serius. Mungkin karena aku berpikir bahwa pada tubuh Wati ada darah daging yang sama dengan Dilan. Kau tahu lah: Wati adalah saudaranya.

“Kenapa?”, Wati nanya sedikit berbisik dan mengelus punggungku
“Watiii…”,
“Iya, kenapa?”
“Dilan….”
“Dilan?”
“Kenapa Dilan gak ikut…………?”

Aku nangis dengan perasaan tak karuan, sambil terus meluk Wati. Wati pasti bingung kenapa kasus ini bisa bersangkut paut dengan Dilan?

Makian Beni sangat menyakitkan hatiku. Tak kusangka dia akan bilang begitu. Tak kuduga bahwa hari ini akan ada. Sambil kuseka air mataku, terkenang kalimat Dilan di telepon, beberapa waktu yang lalu:

“Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea”
“He he he. Kenapa?”
“Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!
“…..”

31
Aku sakit. Katanya kecapean. Capek apa ya? Enggak tahu lah, dokter bilangnya begitu. Jangan berdebat, nanti jadi malah tambah sakit. Udah, percaya aja. Aku disuruh istirahat. Selama tiga hari, aku gak masuk sekolah.

Di hari kedua aku sakit, beberapa kawan sekelas datang menjenguk. Nandan juga ikut. Aku temui mereka di ruang tamu. Iya, aku masih bisa jalan, sakitku tidak parah-parah amat. Satu-satu dari mereka menyalamiku dan mengucapkan doa kesembuhan.

Mereka bawa buah-buahan. Nandan diam terus, cuma bilang cepat sembuh. Kayaknya ada banyak yang ingin dia omongin, terutama ngebahas peristiwa di Jakarta, hanya waktunya aja yang belum tepat, mengingat akunya juga lagi sakit.

Aku duduk di situ, di bagian ujung kiri sofa panjang, dan Rani duduk di sampingku. Galih duduk di samping Rani, di ujung kiri sofa. Nandan duduk di kursi lainnya. Tatang berbagi duduk dengan Revi di kursi yang beda. Sebagian lainnya pada di luar, bercengkrama, sambil menyemangati kawannya yang ngambilin jambu batu.

Orang yang datang, semuanya dari kelas 2 Biologi 3. Kalau jaman dulu sudah ada handphone, pasti aku sudah akan SMS Dilan. Ingin tahu di mana dia. Mudah-mudahan sehat selalu. Maaf, Dilan, terserah, kau mau bilang apa, tapi aku rindu.

“Wati mana?”, kutanya Rani
“Itu di luar”
“Wat!”, aku berusaha manggil Wati
“Wat, dipanggil!” Tatang teriak. Wati datang
“Ya?”
“Sini”
“Sini, Wat”, Rani manggil, sambil bergeser untuk membagi tempat duduk dengan Wati. Wati duduk secukupnya di antara Rani dan Galih.
“Ada apa?”, tanya Wati
“Enggak. Di sini aja, Wat”, jawabku.
“Itu, anak-anak lagi pada ngambilin jambu”, kata Wati
“He he ga apa-apa. Kamu mau?”
“Udah”
“Kalau mau lagi ambil aja”

Si Bibi datang, bawa minuman dan kue. Suasana ruang tengah cukup rame. Ngobrol sana-sini, seperti kebanyakan anak remaja di dunia. Mereka juga membahas soal kesiapan menghadapi PORSENI. Pekan olah raga dan seni yang akan diselenggarakan di sekolah.

Telepon rumah berdering, yang ngangkat si Bibi. Kata si Bibi, itu telepon dari Beni.
“Bilang lagi tidur aja, Bi”
“Iya” jawab si Bibi sambil pergi.

Aku yakin, selama tidak sekolah, sebagian kawan ada yang ngebahas peristiwa di Jakarta. Entah dari sudut pandang apa mereka beropini. Beredar dari mulut ke mulut, bagai apa yang membakar jerami kering. Aku pasrah. Bahkan aku tidak mau membahasnya ketika mereka pada datang ke rumahku.

Berita itu mungkin sudah sampai juga ke Dilan. Aku gak tahu. Aku belum bertemu Dilan sejak pulang dari Jakarta. Kalau memang benar sampai, sejak itu Dilan tahu bahwa ternyata diam-diam aku sudah punya pacar. Aku pasrah, terserah dia mau bersikap apa kepadaku setelah semua itu.

Telepon berdering lagi, yang angkat si Bibi lagi. Dari Dilan katanya. Oh!

“Bentar”, kataku sambil mau beranjak dari dudukku dan lalu ke sana untuk nerima telpon dari Dilan. Entah mengapa, rasanya, tangan ini rada sedikit gemetar.
“Halo?”
“Kamu sakit?”, tanya dia, tanpa ba bi bu langsung nanya begitu
“Eh? Sedikit. Sudah mau pulih. Kamu di mana?”
“Kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Sakit kenapa?”
“Sakit biasa. Kata dokter kecapean”
“Ya, aku harusnya kemaren ikut ke Jakarta”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu, merasa harus aja”
“Kenapa harus?”
“Makan berdua denganmu di Jakarta mengganti Nandan”
“He he he he. Kan di Bandung juga bisa”
“He he Iya. Nanti, Milea”
“Kamu di mana?”
“Tapi aku nyesal kemaren tidak ikut ke Jakarta”
“Ya sudah. Gak usah disesali. Kamu di mana?”
“Di planet bumi”
“Ih! Serius di mana?”
“Di? Bentar aku mau nanya orang. Aku tutup dulu ya teleponnya. Nanti kutelepon lagi”
“Eh? Ha ha ha. Masa’ gak tahu?”
“Bentar, bentar. Jangan pergi dulu dari situ”. Klik. Dia menutup teleponnya. Aku tunggu sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama telpon pun berdering. Kuangkat.

“Halo?”
“Di Sekelimus”, katanya. Sekelimus adalah nama daerah di kawasan Buahbatu
“Ha ha ha ha Kamu beneran nanya?”
“Iya”
“Ha ha ha ha. Sini, Dilan. Ada Wati”
“Ngapain dia di situ?”
“Sama yang lain, pada nengok aku katanya?”
“Oh? Kamu masih sakit?”
“Sudah mendingan. Sini, Dilan”
“Iya. Iya. Aku ke sana”
“Serius?”
“Serius enggak ya? Bentar aku tanya orang. Aku tutup dulu ya teleponnya?”
“Gak usah heh!!!”
“Ha ha ha ha ha ha”
“Udah, pokoknya aku tunggu”
“Iya. Aku ke sana sekarang”

Baca juga :
Dia adalah Dilanku tahun 1991
Milea, Suara Dilan

Waaah, Dilan mau datang. Senangnyaaaaa!!

Bersambung...



Jika sobat penasaran dengan kelanjutan kisahnya, silahkan di bungkus Dia Adalah Dilanku tahun 1990.pdf, here

Salam,
Admin
advertisement
SHARE ON :

Artikel Terkait

Dia adalah Dilanku tahun 1990 - Pidi Baiq
4/ 5
Oleh

Subsribe

Masukkan alamat email Sobat untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan pesan baru melalui email.

Load comments